Cari Di sini !

Showing posts with label Animal Cruelty Free Cosmetics. Show all posts
Showing posts with label Animal Cruelty Free Cosmetics. Show all posts

Thursday, 28 July 2016

Apakah The Body Shop Halal? Liat dulu ulasannya

The Body Shop - Assalamualaikum, Manceman :D Meski telat, sebelumnya BCQ ucapkan Mohon Maaf Lahir Batin, ya. Maafkan kalau di blog ini ada kata-kata yang gak berkenan di hati, ada kata-kata yang nyindir, nyinyir, nyebelin, ngeselin, dan segala yang bikin hati gak enak deh, ya. Dan semoga segala amal ibadah kita sepanjang Ramadhan lalu, diterima Allah SWT, Ameen.

Sesuai dengan judulnya qonitas, aku bikin tulisan ini berdasarkan pertanyaan pembaca. Semenjak nulis blog ini,  pertanyaan yg masuk ke email memang gak jauh-jauh dari pertanyaan kehalalan suatu produk kecantikan.

Kalau produk kecantikan yang sudah mengantongi label halal dari MUI, ya gak ada masalah dan tidak perlu ada pertanyaan lagi. Tapi bagaimana dengan produk lainnya? Maka dari itu, ada saja yg bertanya mengenai kehalalan produk ini, produk itu, dan yang terbanyak adalah mengenai kehalalan produk dari The Body Shop.

The Body Shop


Beberapa pertanyaannya sbb:
  • TBS halal ga?
  • Yakin tuh produk TBS halal, kan masih mengandung gliserin, bla...bla... (menyebutkan beberapa kandungan syubhat, kandungan yg bisa berasal dari hewan dan bisa juga berasal dari tumbuhan dan sintetik).
  • Gimana dong, produk TBS yang aku pake ada alkoholnya... Alkohol yang digunakan TBS termasuk yang halal apa enggak?
  • dll

Kalau aku cermati dari email-email yang masuk mengenai kehalalan produk kosmetik, aku rasa Muslimah sekarang udah pada pinter dan kritis. Mereka yang peduli dengan kosmetik halal, gak semerta-merta percaya dengan kehalalan produk berlabel 'natural' 'green' 'herbal' dll. Karena apa? Natural belum halal.

Misalnya gini, PRODUK *KOSMETIK NATURAL A, semua zat aktifnya betul 100% berasal dari ekstrak tumbuhan, tapi apakah zat pendukung lainnya yakin bebas hewan dan alkohol khamar? Bisa saja Gliserin-nya berasal dari hewan yang haram (babi atau sapi yang tidak disembelih secara syari) atau alkoholnya berasal dari industri khamar.

*Oiya, ngomong-ngomong, yang disebut dengan kosmetik (menurut ilmu kosmetologi) bukan cuma produk make-up aja ya, tapi meliputi skincare, bodycare, nail, foot, hair, dan usaha lain untuk merawat kecantikan luar. Soalnya banyak yg mengira kosmetik = produk makeup saja.
 
back to topic.

The Body Shop menurutku salah satu produk yang bisa menjadi alternatif kosmetik-kosmetik yang sudah mengantongi sertifikat halal resmi, karena:
  1. 100% vegetarian
    ...We never test on animals, and all our products are 100% vegetarian. We campaign with passion on issues close to our heart, because activism is in our blood. We always keep people, animals and the planet in mind. So when you shop with us, you are choosing... (sumber: http://www.thebodyshop.co.id/tbs/4/1-About%20The%20Body%20Shop.html)

    Untuk alternatif kosmetik halal, memang paling tepat kalau kita memilih poduk kosmetik vegan atau vegetarian. Kalau vegan, unsur kosmetiknya 100% bebas konstituen hewan bahkan bebas susu dan madu sekalipun, semuanya berasal dari tumbuhan dan sintetik. Kalau Vegetarian, bebas hewan 100% tapi masih menggunakan bahan yg behubungan dengan hewan (namun dihalalkan), misalnya: susu, madu, beeswax, royal jelly, lanolin wool domba, dan pewarna serangga (konon serangga tidak dikategorikan 'animal' menurut beberapa pendapat).

  2. Alkohol yang digunakan berasal dari industri non-khamr
    ...The Ethyl Alcohol is present as a solvent and is not intended for intentional ingestion and intoxication. Moreover, all Ethyl Alcohol used in our products is denatured as required by the regulatory authorities in every Market, in which we trade; this renders the Ethyl Alcohol as unsuitable for consumption. The Ethyl Alcohol is manufactured as a synthetic chemical and not by the alcoholic beverage industry. In view of this, our products containing Ethyl Alcohol have been allowed to be sold in all Markets, in which we trade, including those with a predominantly Muslim population.
    All other ingredients with the word ‘Alcohol’ in their names are not used in the alcoholic beverages for the purposes of intoxication, have significantly different chemical structures to Ethyl Alcohol and are well established cosmetic ingredients that are fully compliant with Halal requirements...
    (sumber: http://www.thebodyshop.com.hk/en/faqs_product.aspx)

    See? Berarti alkohol yg digunakan adalah alkohol yg sudah didenaturasi, bukan berasal dari beverage industry alias industri khamar (alkohol yang diproduksi untuk dikonsumsi dan intoxication (baca: mabuk) ).

    Alkohol jenis tersebut sudah memenuhi pernyaratan halal bila digunakan untuk kosmetik. Sesuai fatwa MUI, ada 2 syarat alcohol diperbolehkan ada di dalam kosmetik:
    1. Alkohol tersebut tidak berasal dari industri khamar (maksudnya, alkohol yang sengaja dibuat untuk minuman yang memabukkan)
    2. Alkohol tersebut tidak membahayakan kesehatan (madharatnya lebih besar)

Ada yang tanya, kenapa di situs TBS indo gak ada keterangan tentang alkoholnya. Harusnya sih TBS Indonesia mencantumkan dengan sejelas-jelasnya, secara Indonesia itu Muslimnya paling banyak. Tapi, memang tidak semua situs TBS mencantumkan rincian FAQ secara lengkap, pertanyaan mengenai alkohol TBS pun aku dapat dari TBS Hongkong *garukkepala.

Kabar dari Moslem Consumer Group (MCG)

Ada beberapa readers yg pernah email dan komen tentang kabar kehalalan TBS di Moslem Consumer Group (MCG). Mereka bertanya setelah membaca berita dari MCG mengenai TBS yang berbunyi seperti ini:
A sist has provided a e-mail to MCG from The Body Shop Company (reference Number 63461) where company claimed to use gelatin either from pork or non zabiha beef, Shellac which might be dissolved in alcohol. The Body Shop products are not recommended to be use by Muslims. March 17, 2013
http://www.muslimconsumergroup.com/cosmetic.html

Nah, bagaimana tanggapanku?

Jawabanku: Gak masalah, aku tidak terpengaruh dengan kabar MCG, karena:

        Silahkan baca poin mengenai 100% vegetarian dan Kehalalan alkoholnya di postingan ini.
        Fatwa di negara lain mengenai alkohol iu berbeda. Banyak negara yg mengharamkan 100% alkohol dalam kosmetik tanpa terkecuali. Sedangkan di Indonesia, kita mengikuti fatwa dari MUI, yg membolehkan alkohol/ethanol yg tidak berasal dari industri khamar.

        Jadi, gak heran, kalau muslim di luar Indonesia akan berpendapat haram saat melihat ethanol dalam ingredient kosmetiknya. Bahkan, MUI menghalalkan pewarna carmine (pewarna serangga yg bisa digunakan untuk kosmetik), yang mana oleh MCG dan banyak muslim lain pewarna tersebut diharamkan.

        Makanya, di MCG kalau ada kosmetik yang mengandung Carmine, pasti masuk kategori haram. Sedangkan kosmetik lokal yang sudah mengantongi sertifikat halal seperti Sariayu, masih bisa kita temukan pewarna carmine di daftar ingredientnya. Ya, berbeda pendapat menganai permasalahan khilafiyah itu gak masalah kan? Gak usah berantem, hehe.

        Kalau TBS, ternyata mengingkari janjinya untuk 100% vegetarian dan menggunakan alkohol yang dibenarkan, bukan hal yg mustahil kalau produknya akan diboikot jutaan Vegetarian, pecinta binatang dan Muslim yang sudah percaya dengan janji mereka. Dan yang pasti, Cruelty Free International nya dicabut. Karena kita tahu kan, produsen itu bisa sukses menjual produknya berdasarkan  kepercayaan dari konsumen.

        Kalau masih tidak percaya, itu terserah pilihan masing-masing. Kalau memang melakukan kebohongan besar, itu bukan urusan kita lagi dong, itu urusan TBS dengan Tuhan, hehe.  Kita sih selaku manusia percaya-percaya saja dengan mereka. Sik asiiikk... :D

        Aku sudah mengikuti perkembangan MCG sejak lama. Meskipun MCG bisa jadi informasi yang bermanfaat untuk Muslim yang tinggal di USA dan Canada sana, ada yang disayangkan dari MCG. Mereka sering tidak menindaklanjuti email-email pembaca yg masuk ke mereka/gak ditelisik lagi keabsahannya.

        Kalaupun pada akhirnya ditindaklanjuti, lumayan lama juga terbit update nya. Ada bagusnya, mereka SEGERA cross check langsung ke produsen produk yang bersangkutan. Jadi, sering informasinya berasal dari laporan email pembaca, "A sister/brother bla...". Nah, kabar beritanya sering stuck di situ. Kan, untuk urusan seperti ini, kita gak cukup berhusnuzhan ke sesama muslim, tapi harus langsung Tabayyun. Dalam Islam, Tabayyun atau konfirmasi itu penting, biar tidak merugikan satu pihak saja.

          Bonus: Produk The Body Shop, Gagal vs Cocok

          Ada banyak produk TBS yang kucoba, tapi yang gagal banyak juga, haha. Misalnya, beberapa produk sabun cair, lipbalm Born Lippy, aneka lip butternya, Seri Vitamin E, Seaweed, Facial wash seri Tea Tree, AIO Foundation, AIO foundation powder, Shiso BB (nyoba sample). Kadang, ada beberapa yang beberapa produknya memiliki efek yang serupa dengan beberapa produk lokal, misalnya body butter dan body scrubnya.

          Kalau kubandingkan, ya efeknya 11-12 lah, gak ada Body Butter atau Body Scrub TBS yang efeknya heboh gimana gitu. Tapi aku akui Body Butter dan Body Scrubnya enak-enak banget wanginya. Dan untuk urusan zat aktif, tentunya banyak produk lokal yg gak kalah bagusnya.

          Tapi, banyak juga yang sekali coba langsung sukses, sampai repurchase, misalnya: White Musk EDP, White Musk Libertine EDT. Wewangian musk mereka itu memang tidak asli Musk, tapi justru musk yg seperti itu yg kucari. Karena, kalau Musk asli pasti berasal dari kelenjar rusa jantan (menjangan), yang akhirnya mungkin tidak halal karena cara mengambilnya memang tidak melalui proses sembelihan.

          Satu lagi, wewangian dari seri Japanese Cherry Blossom (aku pake body mist nya). Untuk perawatannya, aku suka dari seri Cocoa, Coconut Shower Cream, Vitamin C Face Spritz, Aloe Toner, Cucumber Toner. Aroma dari seri Moroccan Rose juga syuka, tapi kemarin aku cari kok gak ada, discontinue ya??

          Kemudian untuk TBS tools beberapa yg aku suka ada:  Powder Brush, Eyebrow brush, Kabuki Brush, Bath Brushes nya (terutama yg cactus), Nail Buffer, Bath Gloves, Bath lili. Nah,untuk tools, TBS emang punya kualitas bagus, dan yg penting AWET banget. Jadi, belipun gak nyesel karena bisa jadi investasi yg bagus. Yang pernah bikin aku kecewa kayaknya cuma Eyelash curlernya.

          Dan selama 2013, ada beberapa produk TBS yg jadi favoritku. Beruntung, sekali nyoba langsung cocok:

          Oke, sepertinya penjelasan mengenai kehalalan produk The Body Shop sudah cukup jelas. Ngomong-ngomong, apa produk TBS favorit kalian?
          Wassalam, Love, Momzhak

          Sunday, 1 March 2015

          Hada Labo Gokujyun Foaming Face Wash | Review


          Sekarang lagi suka sama pencuci muka yang tipenya dipencet trus langsung keluar busa, kaya punya Hada Labo yang mau ku review sekarang ini, nih. Kesannya praktis tapi muka tetep terasa bersih.

          Sebenarnya ini bukan pertama kalinya pakai pembersih muka semacam ini. Dulu pernah pakai Sebamed Clear Face Cleansing Foam sama Acnes Foaming Wash, tapi cuma pakai sesekali aja, belinya pun cuma karena kepengen, hehe. Beda sama hadalabo yang ini, kepake terus dari pertama beli :D


           
           
          Produk Hada Labo rata-rata memang cocok buat kulitku. Ada beberapa yang pernah aku coba dan membuahkan hasil, seperti: Hada Labo Shirojyun Essence, Hada Labo Gokujyun Lotion dan Hada Labo Retinol Lotion. Tapi untuk pembersih mukanya, cuma suka sama yang berbentuk foam seperti ini. 

          Nah, sekarang yuk kita simak review-nya! Sekalian mau nyoba nulis review pake format baru, biar terlihat lebih rapi (mohon kritik sarannya :3)

          Deskripsi Produk

          • Nama: Hada Labo Gokujyun Ultimate Moistirizing Foaming Face Wash
          • Produksi: PT. Rohto Laboratories Indonesia
          • Harga: IDR 30k
          • Isi: Nett 100 ml
          • No. POM: NA 18121202221
          • Bisa dibeli di: Supermarket, drugstore.


          Pembershih muka berbentuk foam, melembabkan kulit 2x lebih lembab sekaligus mengangkat kotoran dan minyak dari kulit.
          Tdak mengandung zat pewarna, pewangi, mineral oil, dan ethanol.
          Sesuai dengan pH kulit, tingkat iritasi rendah

          Cara pakai: Pompa Hadalabo Gokujyun Ultimate Moisturizing Foaming Face Wash Secukupnya pada telapak tangan. Usapkan ke seluruh wajah pelahan dan merata. Bilas dengan air. Hindari area mata.

          Komposisi: Water, Butylene Glycol, PEG-400, Polyglyceryl-10, Laurate Tea-Cocoyl Alaninate, Disodium Cocoyl Glutamate, Sodium Cocoamphoacetate, Glycerin, Starch Hydroxypropyltrimonium Chloride, Succinic Acid, Methylparaben, Hydroxypropyltrimonium Hyaluronate, Sodium Acetylated Hyaluronate.
          Ada yang sedikit berbeda. Biasanya, kalau tipe pembersih muka semacam ini, botolnya harus dikocok dulu sebelum dipump keluar, tapi di produk ini gak ada instruksi seperti itu.

          Untuk komposisi, gak ada masalah. Hanya saja agak berbeda sama versi USA (lihat di sini).

          Halal Certified?

          Tidak, tapi Hada Labo bebas bahan yang berasal dari turunan hewan, jadi produk ini bisa jadi alternatif kosmetik yang sudah bersertifikat halal. Selain itu, Hada Labo juga animal tested free. Keterangan lengkapnya, bisa baca di postingan BCQ yang ini [click].

          Kesan Menggunakan Produk Ini

          Paling gak sabar kalau mau review skincare, soalnya gak langsung kelihatan hasilnya. Apalagi kalau skincarenya semacam moisturizer atau night cream, paling cepet dua minggu baru kerasa hasilnya. Atau kalau mau agak niat, ya nunggu 28 hari demi ngikut jadwal regenerasi sel kulit, heuheu.

          Kalau produk ini, pas dipake pertama kali aja bener-bener langsung terasa hasilnya. Sampai publish postingan ini, aku baru pakai selama kurang lebih satu minggu. Tapiii... mungkin karena kulit wajahku emang lagi gak kenapa-kenapa, lagi gak kusam, lagi gak kasar, jadi pakai apapun terasa enak. Coba kalau kulit lagi memble?? :'D :'D


          Yang Kusuka

          Pertama, bentuknya foam yang praktis. Jadi, tinggal pump, langsung berbentuk busa. Biasanya aku pakai tunggal setelah bangun tidur (mau makeup) dan untuk membersihkan sisa milk cleanser saat membersihkan makeup.


          Kedua, meski bentuknya foam tapi tetep bisa membersihkan tanpa bikin kering. Kemampuannya mengangkat minyak woke banget, tapi kalau untuk membersihkan makeup aku belum pernah coba. Kalau ritual membersihkan makeup, selalu kuawali dengan milk/oil cleansing dulu, baru setelah itu pakai produk ini.


          Trus, gak bikin kering. Aku rasa karena pembusa yang dipakai memang low-irritant dan pastinya efek dari hyaluronic acid yang bisa mempertahankan hidrasi kulit, jadi kulit pun gak gampang kering. Pas dibilas pun gak terasa kesat.

          Ketiga, mengandung hyaluronic acid (HA). Sebelum pakai Hada Labo yang paling getol mendengungkan HA sebagai jagoannya, dari dulu aku memang paling suka skincare yang mengandung HA karena memang HA yang paling ngefek di kulitku tanpa bikin break-out. Kalau dulu, aku pakainya rangkaian produk Sebamed seri Clear Face. Kalau seri Clear Face kan memang diperuntukan untuk kulit berjerawat, jadi pelembabnya pakai HA yang memang gak bersifat komedogenik/aknegenik. 

          Memangnya, hyaluronic acid itu apa sih? 

          Rata-rata orang bilang HA itu moisturizer (pelembab). Tapi, lebih tepatnya adalah sejenis humectant. Humectant adalah zat yang bisa menarik air dari luar dan mengikatnya, jadi dalam jumlah yang tepat mereka bisa mempertahankan kadar air pada lapisan kulit, agar kulit terhindar dari dehidrasi. Selain asam hyaluronat, ada glycerine dan aloe vera yang juga sama-sama humectant.

          sumber gambar: futurederm.com
          Berbeda dengan pelembab biasa yang berasal dari jenis minyak. Kalau minyak, cara kerjanya melapisi lapisan kulit agar tidak terjadi penguapan cairan yang bisa membuat kulit kehilangan kelembaban. Kekurangnya, jenis minyak banyak yang bersifat komedogenik dan terasa lengket dan pengap saat digunakan. 

          Keempat, packaging. Semua pasti tahu, kalau kemasan adalah salah satu kekuatan dalam menjual produk. Walaupun produk yang dijual punya kualitas pas-pasan, dengan packaging yang mahal dan meyakinkan, pasti akan banyak orang membelinya. Untungnya, kalau produk ini sebelas dua belas sama efek yang aku dapat, hehe. 

          Terakhir, produk ini gak bikin break-out alias jerawatan, komedoan, alergian, dan kawan-kawannya. Orang yang punya kulit berminyak dan acne-prone, emang gak bisa sembarangan pakai produk perawatan kulit, resiko break-out itu pasti selalu mengintai. Suka agak-agak ngeri nyoba produk baru, tapi kalau gak dicoba gak akan tahu mana yang cocok buat kita. Serba salah ._.

          Yang Kurang Kusuka

          Cuma satu, produk ini gak punya kemasan refill. Beda sama Acnes Foaming Wash yang mirip kaya gini, kalau Acnes menyediakan kemasan isi ulang dalam bentuk botol plastik tanpa pump, yang suka pakai produk Acnes pasti tahu deh.


          Repurchase?

          Sebenarnya aku biasa pakai pembersih muka yang udah lama dipake yaitu Ristra Med Soap. Tapi, karena harganya lebih mahal dengan komposisi yang gitu-gitu aja, mungkin akan pindah dulu ke Hada Labo yang ini (dasar gak mau rugi :P).
          Jadi, repurchase dong ya...^^

          Oke, itu saja ya. Semoga membantu buat teman-teman yang lagi cari ulasan tentang Hada Labo Gokujyun Foaming Face Wash.

          Love, Momzhak.

          Tuesday, 23 December 2014

          Masalah Kulit Badan Yang Kering, Mandi Tanpa Sabun atau Pilih Sabun Natural??

          qonitas - Salah satu jenis kosmetik yang paling ribet kucari adalah sabun mandi. Rasanya jauh lebih susah dibanding nyari suami idaman *maaf para Jones :p

          Disaat kulit wajahku berminyak, di beberapa area kulit seperti kaki dan tangan malah cenderung kering. Dan keringnya gak cuma sekedar kering, tapi kering yang bikin gatal. Jadi, memilih sabun pun harus hati-hati, mengingat aku pun sedikit malas mengoleskan pelembab di badan.


          Sampai Baba pernah bilang gini,"Yaudah, pakai batu kali aja kayak orang dulu. Tinggal digosok-gosok doang..."

          Hehehehe...

          Tapi sekilas memang pernah baca di sebuah forum online yg menyinggung masalah mandi tanpa sabun. Iya, mandinya cuma pakai air aja. Hmm, gimana rasanya tuh??

          Masuk akal juga ya, karena pembersih badan itu memang cenderung bikin kulit kering (apalagi yang kulitnya emang kering kaya eke). Kenapa:
          • Kalau pakai sabun biasa (sabun yg dalam pembuatannya pakai lye/soda), biasanya pH nya alkali, bisa di atas 7, sedangkan kulit kita pHnya 4-5. Nha, pH yang alkali ini lah yg membuat kulit jadi kering, karena acid mantle pelindung kulitnya terkikis
          • Kalau pakai sabun yang pembusanya pakai detergen (biasanya ada kandungan sodium laury/laureth sulfate), bisa bikin kering juga karena bahan tadi sifatnya iritan. Tapi, kalau kalian kulitnya gak bermasalah dengan bahan di atas, ya gak apa-apa.

          Setelah itu, aku baca-baca lagi mengenai ide tersebut. Ternyata banyak yang sukses dan ada juga yang gatot karena gak tahan sama bau badan atau kulit kasar dan kusam. Aku baca juga dari blog blogger luar yang bertahun-tahun mandi tanpa sabun dengan berbagai alasan, dari alasan kesehatan sampai lingkungan, dan mereka masih ngeksis aja tuh :p

          Oke fix, aku harus coba no-soap!! Tapi kalau sampoan sih tetep (i cant imagine my oily scalp skipping out on shampoo! Mau jadi apa rambutku??).

          Oiya, dan tanpa Batu Kali :D

          Water-Only Washing

          Water-only washing ini hanya saat mandi ya, karena kalau sehari-hari aku tetap sering mencuci tangan dengan sabun/cairan antiseptik mengingat aku breaktifitas di tempat rentan infeksi.

          Mandi tanpa sabun bisa kubilang ide yang bagus, karena bisa menahan acid mantle pelindung pH alami kulit kita yang sering tersapu oleh alkali sabun ataupun bahan iritan macam sulfat.

          Awalnya aku memang menikmati semua ini, sebelum aku ingat kalau aku memang punya bakat kulit berminyak, jadi gak semuanya kering. Jadinya, setelah sekian lama mandi tanpa sabun, pada beberapa area seboroik di badanku mulai berontak. Iya, akhirnya aku sukses berkomedo dan berjerawat di beberapa area tersebut terutama di punggung dan dada.

          Sekedar info, area seboroik/seborrheic adalah area di tubuh kita yang memilik banyak kelenjar minyak (glandula sebesea). Area tersebut meliputi kulit kepala, wajah, dada, pungung dan sela paha. Kalau yang kulit wajahnya berminyak, biasanya area seboroiknya juga memproduksi minyak berlebih.

          Kalau di luar area seboroik, kulit punya kelenjar minyak yang sedikit. Makanya gak pernah denger kan betis yang ditap-tap oil paper gara-gara banjir minyak? Atau tangan jerawatan? Kalau ada yang mikir bisul, itu beda lagi. Bisul mah folikulitis/furunkel, bukan acne, hehe.


          Kembali ke mandi cuma pake air.

          Kalau ada yang mikir sama seperti Baba, kok orang kita dulu kulitnya tetep bagus meski hanya mandi dengan batu gosok? Jawabannya: mungkin saja orang dulu yang kelenjar minyaknya sangat aktif juga jerawatan, bisa jadi malah lebih parah. Acne kan udah ada dari jaman nabi, bukan penyakit baru kaya flu babi.

          Kalau ada yang mikir, kenapa orang-orang ada yang survive menjalani no soap washing tanpa keluhan? Jawabannya, tipe kulitnya apa dulu? Kalau tipenya normal, jarang mandi aja gak akan ada masalah, paling jadi kusam. Kalau tipenya kulit kering, malah bagus lho mandi gak pake sabun. Area kulitku yang kering malah jadi bagus kalau gak sabunan.

          Gara-gara ini lah aku sampai mikir, yaudah, sabunin area yang gampang berminyak aja deh, yang lain enggak. Tapi dipikir-pikir gak lucu. Tanggung, malah tambah ribet, hehe.

          Oiya, beberapa orang mengeluhkan bau badan saat mencoba teknik mandi seperti ini, namun aku sendiri tidak mengalami hal serupa, biasa aja. Seberkeringat apapun badanku jarang mengelurkan aroma menyengat, makanya jarang juga pakai deo atau semacam bedak-bedakan. Yang bikin sebel hanya jerawat itu saja.

          Emang salahku juga sih karena cuma sekedar ngikut tips/tren, tapi gak menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Lagipula, kalau memang no soap ini bagus dan cocok untuk semua orang, arkeolog gak akan menemukan sabun purba yang usianya setua Piramida Giza.

          Maka, berakhirlah ritual mandi tanpa sabun, dan jerawat badan pun jauh berkurang. 

          SABUN HOMEMADE-NATURAL-ORGANIC-EVEN WITHOUT DANGEROUS CHEMICAL INGREDIENTS-BALABALA

          Aku udah coba aneka macam sabun. Jelas, sabun mandi jebolan Unilever, Kao, dll sudah lama kutinggalkan. Sabun-sabun yang agak mahal yang dijual di drugstore, belum pernah ada yang kucoba karena rata-rata masih menggunakan surfaktan atau pembusa yang murmer semacam SLS/SLES.

          Kalau ada yang pernah baca ceritaku tentang sabun mandi di blog lamaku, mungkin kalian ingat aku sejak lama pakai Pigeon baby wash, sabun cair tanpa sulfat yang gampang dibeli dimana-mana. Sejauh ini, itu yang paling cocok. Tapi, seiring berjalannya usia, pengen juga pakai sabun yang wanginya enak-enak, kemasannya lucu-lucu dan bukan sabun bayi.

          Intinya, aku masih butuh pembersih saat mandi, tapi pembersih seperti apa? Idealnya ya bebas SLS/SLES, gak terlampau alkali, ada pelembab ekstra dan mudah dicari (tapi plis lah jangan Pigeon lagi).

          Dan, aktifitas jajan berbagai merk sabun sempat dimulai lagi...

          Pertama, aku pilih merek yang klaimnya natural, blabla (seperti subjudul diatas). Biasanya sabun dengan cap natural dan semacamnya memang hadir tanpa surfaktan yang bersifat iritan untuk kulit. 

          Tapi, aku rasa sabun natural juga gak sepenuhnya bagus. Kenapa? Karena sabun natural itu sebenarnya sabun kovensional atau sabun biasa Sabun konvensional itu komposisi utamanya lemak dan cairan soda (lye), nah soda ini sifatnya alkali dan bisa bikin kulit kering. Jadi, kalau kita cocok-cocok aja sama sabun 'jaman sekarang' yg pembusanya pakai surfaktan/detergen, ya pakai aja.

          Awalnya aku takut-takut pakai sabun homemade. Tapi lagi-lagi kekuatan review dan testimoni sukses bikin aku berani untuk coba-coba. Yah seenggaknya gak mengandung SLES/SLS yang bikin kering PLUS menyumbat pori-pori.

          Merk sabun yang pertama kali aku gunakan adalah Green Mommy Shop (GMS). Jauh sebelum aku pakai sabunnya, aku memang suka beli minyak-minyakan semacam carier oil dan essential oil di GMS, soalnya relatif murah.

          Klaim produk ini hampir 100% natural plus organik, walaupun aku sendiri sebenarnya belum terlalu menaruh hati dengan produk organik yang dibuat homemade di Indonesia. Bukannya gak percaya, Tapi di sini, kosmetik organik belum memiliki semacam badan pengawas resmi yg memberikan sertifikat organik. Kalau pun mau sertifikasi, ya harus dari luar misalnya macam USDA organic atau EcoCert. Jadi, alangkah baiknya bila ada badan/lembaga yang mengawasi proses produksi, agar konsumen lebih merasa tenang.

          Balik ke GMS.

          Sabun GMS yang aku pakai adalah Cacao Soap (motifnya lucu, deh) dan Vege Soap. Awal mula dipakai langsung terasa kesat. Beberapa kali mandi pakai sabun Cacao ini, kulit malah tambah kering, kemudian dicoba di muka kulit malah ngelupas. Yang Vege pun mirip dengan sabun biasa, gak terlalu ngeringin kayak cacao tapi kulit tetap busik setelahnya.

          Aku memutuskan gak mau lagi nyoba sabun GMS lagi, lanjut beli minyak-minyaknya aja, hehe.Tapi, mungkin aku juga yang keliru milihnya, harusnya aku pilih Castile Soap yang ada olive oilnya. Atau bisa jadi karena ini sabun natural, yang kualitas setiap batch nya mungkin tidak selalu sama dengan batch sebelumnya.

          Btw, membuat sabun natural itu memang gampang, tapi cukup tricky meski pas pembuatannya udah pakai 'soap calculator' (google it). Kalau gagal bikin, bisa-bisa kulit kita seperti mandi sabun cuci.

          Dulu, aku pernah bikin sabun batangan sendiri. Tapi, karena kandungan fat/minyak yang aku tambahkan kurang dari yang seharusnya (karena takut gagal) maka ya sama saja... aku bak pakai sabun cuci piring. Keset! Tapi, kalau basa/soda yang kita tambahkan kurang, sabun cenderung lembek. Pernah bikin yg kedua kali, sukses juga akhirnya. Tapi mau bikin lagi males, hehe. 

          Sempet skeptis kan sama sabun-sabun natural gitu. Tapi lagi-lagi gak kapokan. Akhirnya nyari-nyari lagi rekomendasi sabun natural yg bagus. 

          Merek selanjutnya yg kupakai yaitu The Bath Box (TBB). Merk ini mengusung produk natural dan organic juga, tapi TBB punya kemasan yang lebih caem dari GMS (kesannya lebih meyakinkan, haha).

          Pertama yang aku beli Milk Tea. Walau sabun batang, ini gak ngeringin, tapi pas awal bilas emang agak sedikit kesat. Setidaknya, pengalaman pakai TBB jauh lebih baik dari sabun batangannya GMS. Aku pakai ini sampai habis.

          Sabun TBB Milk tea, selain preservatives free, dia mengandung susu kambing organik. (Btw, setahuku, hampir semua kambing itu organic ya gak sih? Kan makannya cuma dedaunan liar, gak dikasih suntik ini itu dan bukan hewan yang biasa dimodifikasi genetik/GMO? Beda sama sapi. Thats why, daging kurban jarang ada yang gemuk.)

          Nah, susu kambing inilah yang membuat sabun ini lebih ramah untuk kulit meski dalam pembuatan sabun tetep pakai NaOH sebagai basa/soda. Kenapa? Konon, pH dari susu kambing itu relatif asam, mendekati pH alami kulit manusia, jadinya sabun tadi bisa dibilang pH nya balance.

          Yah, someday, pengen nyoba sabun cairnya yang Goats Dont Lie, yang jadi best sellernya TBB itu. Mbeeekk... :3

          FYI, sebenarnya produk cair yang gak pakai pengawet itu sungguh-sungguh riskan dengan kontaminasi. Nah, kalau pun ada produk cair yang non preservatif yang relatif lebih tahan lama, ya paling sabun cair atau shampo. Tapii... konsekuensinya sabun atau shampo tersebut harus punya kadar alkali yang relatif tinggi agar mikroorganisme ogah tumbuh, tapi kalau terlalu alkali ya kulit cepet kering. 

          Makanya, buat produk-produk homemade yang tanpa pengawet macam ini, aku jarang beli yg ingredientsnya mencantumkan 'air'.

          Kalau mau pilih produk homemade-natural/organic-no preservatives, aku sarankan beli yang anhydrous, yaitu yang gak ada kandungan airnya. Kenapa? Karena tanpa air = tidak ada kehidupan. Termasuk jasad renik.

          Yg anhydrous tuh contohnya apa? Misalnya, aneka minyak,  lip balm, body balm, masker bubuk, scrub bubuk dan sabun batangan (karena kandungan airnya menguap. Ya, kecuali kalau udah kena air, cepat habiskan). Untuk body butter rata-rata anhydrous, kecuali merek Utama Spice (natural cosmetics yang aku suka dari dulu).

          Kembali lagi ke sabun natural dkk.

          Seneng deh nyoba-nyoba sabun gini, Tapi, yang bikin segan, aku harus beli secara online. Lebih suka lihat, beli dan langsung pakai. 

          Akhirnya, aku coba-coba Original Source yg lebih mudah didapat. Yang natural memang hanya fragrancenya aja, dan dia masih pakai SLES sebagai pembusa. Akhirnya, nyoba yang botolan kecil dulu, takut gak cocok. Eh bener deh, kulit kering habis pakai Original Source dan terlalu lengket selepas dibilas, padahal merek ini merupakan produk animal cruelty free dan vegan friendly, ditambah wangi pepermint nya jos banget.

          Sempet lihat merk Oleum yang non SLES/SLS plus dikasih aneka minyak-minyakan, tapi mengandung collagen. Semenjak addict sama halal cosmetics, jadinya agak hati-hati sama kandungan syubhat.

          Masih agak takut coba sabun-sabun homemade merk lain. Tapi, aku mungkin bakal nyobain TBB yg Goats Dont Lie aja deh, apalagi itu sabun cair, kayaknya bakal cocok. Padahal, kita lagi kebanjiran homemade soapmaker lokal, lho. Misalnya Sensatia, Skin junkie, Bali Alus dll yang bikin laper mata mau coba-coba.

          Okelah segitu saja.

          Akhirnya, sekarang balik lagi ke Pigeon, kadang-kadang nerapin no-soap juga, terutama saat mandi pagi (kan kalau pagi-pagi badan masih bersih).

          UPDATE: Akhirnya sekarang pakai Moayu Bath Gel (Halal certified + non SLS/SLES :) :) )

          Friday, 10 January 2014

          Hand & Nail Care | Obrolan dan Review 8 Hand Cream Yang Pernah Kucoba

          Assalamualaikum, Hai Semuanya! ^^ Kalau dalam Islam, wanita adalah keindahan yang terbentang dari ujung rambut hingga kakinya. Namun, saat memasuki masa aqil baligh, hanya ada dua perhiasan saja yang boleh terlihat oleh non-mahram, yaitu wajah dan tangan (yang meliputi punggung dan telapaknya). Kalau begitu, sudah sepantasnya keindahan tangan harus dirawat seperti halnya kulit wajah.

          Tapi sayangnya, kita seringnya lebih terfokus merawat area kulit yang lain. Jadi, tidak heran kalau kulit tangan sering terlihat kurang terawat dibandingkan wajah dan anggota tubuh lainnya.
          Review Hand Cream


          Aku pernah lihat perempuan berusia 50 tahunan yang tampak 10 tahun lebih muda. Wajahnya cantik, makeupnya jago, tidak terlihat kerut di wajah maupun di lehernya. Pokoknya tipikal perempuan yang hi-maintenance, deh. Tapi, ada satu yang menarik perhatianku: punggung tangannya. Punggung tangannya yang kering, keriput, dengan skintone yang lebih gelap dari kulit wajah dan lehernya, membuatku percaya kalau perempuan itu memang seusia ibuku :)

          Ini sih contoh ekstrimnya :D
          Wajah boleh bebas kerut, namun kulit tangan sulit berbohong.
          Sumber: drpersky.com
          Pengalamanku dan gambar di atas mungkin bisa menjadi sedikit gambaran, kalau kulit area tangan juga harus mendapatkan perawatan seperti kulit lainnya. Apalagi, kulit punggung tangan merupakan salah satu area kulit yang paling cepat proses penuaannya. Selain itu, kutikula kuku kita pun sering mengalami kekeringan, terutama untuk kalian yang memiliki pertumbuhan kutikula kuku yang cepat dan masif.


          Jangan Lupa Sunscreen Untuk Tangan Kita 

          Terutama buat Muslimah yang berhijab. Tangan adalah area yang paling sering terekspos sinar matahari. Kalau kulit wajah sih, tanpa disuruh pun kita selalu waspada dengan paparan radiasi sinar UV. Kalau kulit tangan? Lebih banyak lupanya, ya kan? Makanya gak usah ngeluh-ngeluh kalau jilbaban tangan jadi belang, hehe.


          Jangan Lupa Oleh Hand Cream

          Gak harus sedikit-sedikit ngoles, sedikit-sedikit ngoles. Kalau gitu juga ribed. Pakai saja sesuai kebutuhan, misalnya: Kalau sering tinggal di ruangan ber AC atau setelah mencuci tangan. Coba, siapa sih contoh orang yang paling demen cuci tangan? Pertama, ibu rumah tangga, kan IRT sering banget melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan air, bahkan dengan detergen yang membuat kulit kering. Kedua, tenaga medis (dan orang yg bekerja di RS). Apakah itu dokter, perawat, bidan, dkk kalau mereka mengikuti standar kesehatan (dan harus mengikuti, dong!), setiap selesai memegang pasien harus mencuci tangan dengan sabun atau menggunakan cairan antiseptik (sejenis hand-sanitizer gitu). Ketiga, pasien OCD yang phobia-kuman. Pasien tsb bisa membuat kulitnya kering, iritasi bahkan terluka karena terlalu sering mencuci tangan. Oiya, OCD di sini bukan semacam program diet ya, haha. OCD itu singkatan dari obsessive-compulsive disorder. Google sendiri :p

          Kalau ngoles krim tangannya gak pakai hand cream khusus boleh gak? Misalnya, pakai body lotion.

          Oh, boleh banget. Namanya juga henbodi, hehe. Maksudnya, dulu body lotion sering disebut dengan hand and body lotion, kan? Lha, kok 'hand' doang ya? Emang kaki gak termasuk? Nah, karena dirasa kurang adil, sebutan hand-and body lotion akhirnya mulai dicoret dari istilah perkosmetikan, wekekek. Abaikan.

          Cuma, kalau bodylotion itu biasanya kan berat, ukurannya botolnya gede (tapi banyak juga sih yang jual travel-sizenya) dan kebanyakan teksturnya lebih thicky. Tapi, ya suka-suka, lah. Intinya boleh saja pakai bodylotion untuk alternatif handcream.

          Kalau aku sendiri punya beberapa standar dalam memilih hand-cream, seperti:
          1. Gak lengket. Awalnya aku juga cuma pakai bodylotion untuk perawatan tangan dan kuku. Tapi, karena rata-rata bodylotion itu lengket, akhirnya aku putuskan untuk mencari yang namanya hand-cream untuk pelembab khusus tanganku. Tapi ternyata gak semua hand-cream itu enak dipake, Sodara!! Banyak juga yang lengket. Lah, kalau begini apa bedanya sama pelembab badan? 
          2. Ukurannya mini. Kalau ada handcream yang ukurannya gede, mending ganti judul aja jadi body butter sekalian XD
          3. Wanginya enak. Tangan seorang ibu itu harus wangi. Meskipun dia ibu rumah tangga. Soalnya seorang anak itu bisa mengalami pengalaman buruk cuma karena bau tangan. Kedengerannya emang lebay sih, tapi  dulu waktu jaman TK, aku pernah phobia cium tangan! Gara-garanya, seorang guruku pas kucium tangannya (salaman), tangannya tercium bau muntah bayi! *wekz. Pernah lagi pengalaman cium tangan teman ibuku, dan baunya gak bisa aku deskripsikan, antara bau balpirik dengan bau tangan yang habis milih-milih sayur di pasar. Pernah juga nyium tangan ibuku yang kebetulan lagi bau minyak urut (ternyata baru ngerik bapakku, haha), langsung mood aku berubah saat itu juga.
          4. Halal/Animal Derivatives-Free
          5. Mengandung UV protector. Ini gak wajib sih, tapi jadi nilai plus tentunya. Kalau untuk perlindungan matahari, biasanya aku pakai sunscreen untuk wajah saja.
          6. Harganya terjangkau dong (teteup). Gak deh beli handcream mahal-mahal kalau bisa nemu yang murah dengan efek yang serupa.

          Hand Cream Yang Pernah Kucoba

          Di bawah ini adalah handcream yang DULU pernah aku coba, baik beli sendiri, nyoba tester atau coel punya orang lain, hehe.

          1. L'Occitane Immortale Brightening Hand Cream SPF 20

          Ini nyoba punya nyokap. Buat ukuran handcream, ini kemahalan buatku. Kabar buruknya lagi, ini lengket!! Mungkin emang cocok untuk tangan-tangan yang sudah mengalami aging dan seri Immortale dari L'Occitane ini memang ditujukan untuk mereka yang sudah mengalami/memasuki masa penuaan. Gak heran, kalau SPFnya juga gede, hal ini menunjukan kalau sinar matahari memang memiliki pengaruh besar terhadap cepatnya penuaan di kulit. 

          2. L'Occitane Shea Butter Hand Cream



          Aku gak ngerti kenapa testimoni orang-orang bagus banget terhadap hand cream yg satu ini?? Ini handcream pertamaku, tapi bukan beli sendiri sih. Awalnya, ini milik ibuku, tapi karena katanya kurang suka dengan baunya, akhirnya dikasih lah ke aku (sebenarnya aku duluan sih yang minta, wekekek). Teskturnya rich and creamy. Pas di oles pun meninggalkan kesan berminyak, terutama di telapak tanganku (ini yang buat aku bingung kenapa testi orang-orang kebanyakan positif). Yah, mungkin lebih cocok untuk orang-orang yang kulitnya sangat kering atau mereka yang hidup di iklim dingin. Akhirnya, hand cream ini gak pernah kupakai lagi.

          3. The Body Shop Wild Rose Hand Cream SPF 20 (for Mature Skin)


          Aku cuma cobain testernya aja. Aroma mawarnya kurang enak, kayak bau obat-obatan, aneh lah pokoknya. Itulah yang membuat aku untuk tidak membelinya, padahal udah plus SPF 20. Untuk teksturnya, terasa lebih rich dari seri Almond yang saat ini kupakai. Hand Cream Wild Roses ini cocok untuk mereka yang sudah/akan memasuki 'aging'.

          4.  The Body Shop Moroccan Rose Hand & Nail Cream



          Salah satu handcream terbaik yang pernah ku coba. Aku pakai sampai habis, sayangnya varian Moroccan Rose memang sudah tidak dijual lagi. Yang paling kusuka adalah aromanya yang super enak, selain itu handcream ini mudah meresap dan tidak lengket. Dan ini satu-satunya kemasan handcream yang paling kusuka di antara handcream yang pernah kucoba: travel friendly, kemasannya tidak mudah rusak, dan tutup flip-flop pada tubenya.

          5. Etude House 'I Can Fly' Hand Cream (Cherry)

          Bentuknya sih emang unyu, bagus buat jadi pajangan di meja rias (emak-emak?). Tapi, kurang travel friendly, efek melembabkannya biasa saja and lil bit sticky. Akhirnya gak pernah ku pakai lagi, cuma jadi pajangan sampai akhirnya adikku nodong-nodong minta dikasih, haha. Baiklah dik, ini lebih cocok buatmu... :)

          6. Viva Cosmetics Hand and Nail Cream


          Ini hand-nail cream lokal yang super murah, kayaknya gak nyampe 10 ribuan. Gak lengket, sangat mudah meresap, ukurannya kecil dan bisa masuk pouch makeupku tanpa makan tempat. Tapi untuk orang yang tangannya sangat kering, sepertinya ini kurang direkomendasikan. Kalau untuk pencegahan, ini bisa jadi alternatif. Sayangnya krim ini hilang gak tahu kemana, sampai lupa mau repurchase lagi.


          Handcream Yang Kupakai Sekarang

          Favoritku pertama adalah Oriflame Silk White Glow Hand Cream
          Kelebihan: Wanginya enak banget dan tahan lama, testurnya ringan, mudah meresap (matte finish), harganya terjangkau, dan travel friendly. Mengandung ekstrak mulberry dan cherry blossom (bunga sakura??)  yang katanya sih bisa merawat kulit tangan yang menghitam akibat sinar matahari. Kekurangannya: Apa ya? Mungkin harus pesan dari MLM jadi agak susah kalau mau beli lagi (belum lagi kalau produknya ternyata sudah discontinue).

          Handcream yg sedang kupakai sekarang :)

          Favorit kedua adalah The Body Shop Almond Hand and Nail Cream

          Kelebihannya: Aromanya enak (aku suka banget aroma almond!! ><), kelembabannya tahan lama (meski setelah mencuci tangan), melembutkan kutikula kuku, dan harganya terjangkau. Kekurangan: Meninggalkan kesan berminyak untuk sementara waktu. Dan kemasannya yang terbuat dari alumunium. Jadi, kalau sekali dipencet, kemasannya gak akan balik lagi seperti semula, gak travel friendly, karena kemasannya akan mudah rusak/bocor, khawatir isinya bisa keluar kemana-mana.

          Kekurangan keduanya adalah, krim tangan tersebut tidak mengandung SPF.


          Apakah Produk Di Atas Halal?

          L'Occitane, The Body Shop, dan Oriflame klaimnya cocok untuk Vegetarian, dalam artian tidak mengandung bahan turunan hewan yang diragukan kehalalannya. Untuk Viva Cosmetic sampai saat ini masih mengantongi sertifikasi halal dari MUI. Sedangkan Etude House tidak diketahui, meski banyak produknya mengusung produk yang tidak mengandung unsur hewani.

          Sekian dulu obrolan hand-cream malam ini. Semoga informasi dan reviewnya membantu, ya.

          Wassalam :D

          Thursday, 12 September 2013

          Review e.l.f Cosmetics Baked Blush (Peachy Cheeky)

          e.l.f CosmeticsAssalamualaikum, Hari ini aku mau review salah satu produk kosmetik vegan yang super murah meriah. Tahu eye.lips.face Cosmetics kan? Brand yang lebih dikenal dengan nama e.l.f, merupakan brand kosmetik Amrik strata low end dengan kualitas yang lumayan.

          Range harganya 1-6 USD per satuan, kalau yang berbentuk set, macem-macem harganya. Yang bikin aku suka, e.l.f merupakan salah satu kosmetik yang ramah hewan, dan seluruh produknya bebas unsur hewani.
          e.l.f Cosmetics


          Blusher ini merupakan salah satu wishlist-ku. Awal pertama coba, aku cukup kecewa, karena warnanya gak keluar, yang stand-out cuma shimmernya aja. Padahal dari review di beberapa blog, warna blush ini cukup pigmented. Saking sheer warnanya, akhirnya baked blush ini sempat kupakai sebagai highlight saja. Dan sempet gak mood juga untuk bikin tulisan tentang baked blush ini. 

          Nah, kemarin aku coba colek dia lagi sebagai highlight, tapi tiba-tiba aku mikir, kok peach amat warnanya, biasanya gak begini (cuma shimmernya aja yg nongol). Ternyata, semakin blush ini dicolek/diusap/disweep (?), warnanya emang makin terlihat. Setelah aku coba di pipi, yey, akhirnya bisa juga dipakai blush-on! ^^

          KEMASAN
          Apa ada yang bilang kemasan blush ini bagus? Menurut aku jelek dan terkesan murahan (ya memang murah sih, hehe). Karena memang murah, yasudah berarti gak usah protes. Dimaklumi, ya.

          SHADE
          Aku pilih warna peachy cheeky, karena warnanya mirip sama blush-on kesukaanku. Bedanya, blusher yang aku suka itu minus shimmer, jadi glowing face nya emang gak dapet.  Kalau baked blush ini ada banget shimmernya.

          Btw, salah satu keunikan baked blush ada pada 'marble pattern'-nya. Itu lho, pola guratan yang mirip urat-urat, hehe. Yang beruntung akan mendapatkan pola yang bagus dan kompleks. Sayangnya, pola yang aku punya kurang bagus menurutku.

          Gambar di atas merupakan swatch dari baked blush ini. Page teratas saat dioles, page yg bawah setelah diblend. Di kulitku yang kuning langsat, blush ini berwarna peach dengan sedikit sentuhan warna pink, plus gold-shimmer yang sangat halus.

          Karena shimmernya halus banget, baked blush ini gak membuat pori-pori besarku semakin terlihat. Jadi bisa dipakai siang hari, tapi tentunya dengan aplikasi yang tipis menggunakan flat top brush (Anw, untuk blusher, kalau aku lebih suka pakai flat top brush yg lebar dari pada kuas blush on khusus).

          TEKSTUR
          Tekstur blush ini keras tidak membubuk, jadi tidak akan ada debu blush berterbangan dalam aplikasinya. Untuk staying power, jujur aja aku gak pernah perhatian sama ketahanan blusher yang ku pakai. Kalau lagi pergi dan ada kesempatan ke restroom, ya otomatis aku touch-up. 

          PIGMENTASI
          Untuk pigmentasinya lumayan, seperti yang udah ku ceritakan tadi. Awalnya memang sama sekali gak pigmented. Sekarang, cukup 3 sweep warnanya udah bagus.

          FEATURE & INGREDIENTS

          Gambar di atas adalah beberapa fitur yang ditawarkan produk ini. Yah, sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan adanya Jojoba, Rose, Sunflower, dll. Tapi blush ini memang bisa menghasilkan kesan healthy glowy pada wajah. Dan karena shimmernya yg halus, jadinya gak keliatan bling-bling banget. Yah, pokoknya aku suka deh :D

          SWATCH ON MY FACE

          Nah, ini penampakan langsung di wajahku. Aku aplikasikan di kedua apple cheek dan nose bridge-ku dengan menggunakan top flat brush.  Aku suka banget hasil glowynya (plus suka harganya yang murah ^^).

          Dan yang penting shimmernya gak terlalu membuat pori-pori besarku semakin jelas. Untuk mereka yang berpori-pori besar (apalagi lagi komedo, bruntus dll), produk makeup bershimmer akan memperjelas kekurangan tersebut. So, berhati-hati saja, ya.
          http://cantiknyaqonita.blogspot.com/2013/09/elf-cosmetics-baked-blush-peachy-cheeky.html

          Oiya, untuk Score, aku kasih 3.5/5

          APAKAH PRODUK INI HALAL?
          Kalau bersertifikasi halal, tentunya tidak. Tapi semua produk e.l.f Cosmetics adalah Vegan product yang pastinya tidak ada unsur hewan yang dilibatkan dalam produksinya. Jadi, elf Cosmetics bisa menjadi pilihan alternatif kosmetik yang sudah berlabel halal.
          http://cantiknyaqonita.blogspot.com/2013/09/elf-cosmetics-baked-blush-peachy-cheeky.html
          Wassalam, Love, Momzhak.

          Monday, 2 September 2013

          Hair Care | Sharing Perawatan Rambut Rutin (Plus Short Reviews)

          Assalamualaikum Qonitas. Tadinya, aku mau kasih judul ' Perawatan Rambut Berhijab '. Tapi, dipikir-pikir enaknya sharing haircare routine ku aja kali ya? Lagian, perawatan rambut yang berhijab sama yang enggak, rata-rata sama aja, kok. Kalau dibilang lebih ribed-enggaknya, itu relatif menurutku. Plus beberapa short review, ya..

          Dan, sebelum masuk ke Sharing Perawatan Rambut Rutin tentang hair care-ku dan yang lainnya, aku mau cerita seputar karakter rambut ku dan masalah rambut yang paling sering aku alami. Kali aja, ada blogwalkers  yg senasib sepenanggungan, hehe.

          Karakter & Kondisi Rambut
          • Tipe kulit kepalaku normal to oily. Menyesuaikan dengan kulit wajahku yang tipe berminyak. Biasanya, jenis kulit kepala itu emang gak jauh berbeda dengan tipe kulit wajah.
          • Tekstur rambutku ini gak lurus, gak keriting juga. Bergelombang mungkin, ya? Kata mamaku, tipe rambut anak-anaknya 'ikal mayang', pernah denger istilah itu ga? Aku juga baru denger dari mamaku aja, hehe. Tapi gelombangnya cuma keliatan kalau rambutnya panjang. Kalau pendek sih seakan-akan kayak rambut lurus biasa. Ada yg punya jenis rambut macam ini? 
          • Warna hitam pekat. Aku suka berambut hitam, sampai sekarang belum terpikir untuk hair-coloring. Rambut hitam membuat wajah kelihatan lebih bright, IMO ^^
          • Aku jarang berambut panjang, biasanya pendek bawah telinga s.d bahu. Kenapa? Lanjut aja deh bacanya, :P
          • Kondisi rambutku ini masih terbilang 'virgin', belum diperawani oleh berbagai macam alat-alat rambut berat dan unsur kimiawi yang keras, alias belum pernah hair-coloring, hi-lite, smoothing, catok, dll. Cuma hairdryer-blow aja
          • Dan terakhir, rambutku berhijab  sejak kelas 1 SMP, cerita lengkap [click] di sini. Dan sehari-hari rambutku biasanya tertutup selama kurang lebih 10 jam

          Masalah Rambut
          Apa ya, kayaknya gak pernah ada masalah besar. Kalaupun bermasalah, itu temporer aja. Paling cuma susah panjang, meski dipakein ini-itu. Kata mamaku, dari kecil rambut aku ini emang bandel, udah dikasih macem-macem biar panjang, tapi lama banget panjangnya. Setahun pelihara rambut, gak sampe 10cm pertumbuhannya, sedangkan adik-adikku udah mulai potong rambut lagi karena udah terlalu panjang.  Akar rambutku emang termasuk kuat sih, jarang rontok, tapi susah mau dipanjangin. Inilah alasanku kenapa jarang berambut panjang. Karena panjangnya selalu nanggung segitu-gitu aja akibat lama tumbuh, ujung-ujungnya bosen dan potong. Ada yang gini gak sih??  T_T

          Eh, dulu pernah waktu SD rambut jadi kutuan, arrgh. Gara-gara kemping pramuka 3 malam, tidur berdesakan dengan teman-teman lain. Entah siapa yg menularkan gerombolan Pediculus humanus capitis ke kepalaku, hiks. Tapi akhirnya ilang juga setelah pake anti-kutu, ditambah dicariin terus si telor-telor kutunya sama si Bibik tiap pulang sekolah. Aku jadi kesel sendiri waktu tahu rambut kutuan, soalnya kucing-kucingku aja gak ada yg berkutu, eh akunya malah kutuan. Haha. Yasudah. Anw, nulis pengalaman berkutu jadi kebawa sugesti sendiri, jadi gatel kayak ada yang jalan-jalan di atas kepala... *garuk2

          Oiya, rambutku emang cepet lepek karena kulit kepala kan normal-oily, tapi bisa hilang dengan keramas rutin. Gatal di kulit kepala juga suka, tapi itu karena lagi jorok alias males keramas, lol. Misalnya, kalau lagi libur panjang, aku paling males keramas, hihi. Tapi di luar holiday, aku paling strict ngurus rambut. Intinya, kalau dirawat baik-baik, kayaknya gak ada problem apa-apa.

          *****

          KERAMAS
           

          Frekuensi
          Frekuensi mencuci rambut itu relatif, hampir gak ada batasan harus berapa hari sekali. Semua tergantung jenis kulit kepala dan aktifitas masing-masibf orang. Jadi harus dilihat case per case. Misalnya aku, aktifitas memang tidak terlalu sering berkeringat namun jenis kulit kepala normal-oily, jadi frekuensi keramasnya bisa 2 hari sekali. Atau setiap hari, kalau sedang banyak berkeringat dan saat frekuensi pengeluaran sebum kepala lagi banyak-banyaknya (misalnya pas udah mau deket-deket haid). Sejorok-joroknya 3 hari sekali, itupun rasanya udah gak keru-keruan.

          Untuk mereka yang kulit kepala berminyak (apalagi ketombean) dan aktifitas sehari-hari lebih banyak di outdoor, terpapar polusi dan debu ditambah banyak berkeringat, bisa dipertimbangkan untuk berkeramas lebih sering. Tapi, orang yang tipe kulit kepala normal, mungkin bisa saja 5-7 hari sekali baru keramas. Jadi inget, dulu punya temen sekosan, udah seminggu lebih gak keramas tapi kulit kepalanya tetep bersih dan gak lepek, kalau sering keramas malah jadi kering, sehari-hari hanya mengandalkan hair mist aja untuk meminimalisir bau matahari.

          Samponya Apa?
          Sampo yang kupakai Natur dan The Bodyshop Rainforest (Volume). Pake selang-seling pake atau sesuka-suka hati lagi mau pake yg mana, feel free lah. Tapi sampo Rainforest lebih boros, sebulan setengah udah habis, Tapi sangat sepadan dengan harganya. Sekarang aku lebih suka Rainforest, karena membuat rambut lebih halus dan wanginya enak. Kalau Natur aku suka karena harganya murah. Oh, aku juga lagi suka pake Pigeon Shampoo, nyoba punya my baby boy yang kulitnya super sensitif (eczema-prone). Itu sampo bayi yang sulfate-free & silicone-free yang paling mudah ditemukan (akhirnyaa...^^). Gara-garanya, shampo Chicco yang biasa dede pake hampir habis, saat itu rencananya mau beli ke dept. store (gak ada di supermarket). Kebetulan waktu itu aku ke karfur dulu, untuk cari Baby Wash Pigeon (yang biasa aku pakai buat mandi. Iya, aku yg pake! :P *yang dulu ikutin blog lamaku pasti pernah baca pos tentang sabun mandi, haha.), trus gak sengaja lihat Pigeon Shampoo, eh ternyata free silicon dan sulfate. Asiik. Dulu, sempet tuh dibeliin Mothercare sama temenku, katanya bagus buat anak yg kecenderungan alergi. Eh, pas kulihat ingredientnya, masih mengandung sulfate. Gak deh.


          SHORT REVIEW | NATUR PENCUCI RAMBUT ALOE VERA

          1. Dari kemasannya aku kurang suka, karena terlalu kecil, jadinya gampang nyampah. Ada sih yang ukuran guedeee, tapi aku gak pernah nemu yang varian Aloe Vera, adanya yang Gingseng. Aku suka aroma yang sekarang, lebih wangi (ada pewangi alami green tea), dulu bau jamunya amit2 deh karena memang tidak ditambah pewangi sintetis. Karena bebas sulfat, jadi busanya gak terlalu banyak. It's OK laa... bisa diulang 2 kali. Buat yang gak biasa pake sampo Natur (dan sampo non silikon lain), pasti berasa kesaaaat banget, ada sensasi 'sapu ijuk' di rambut. Itu biasa, tapi bukan kering lho...

          2. Teksturnya kental, dan ada peringatan di setiap kemasannya, kalau produk ini gak boleh kemasukan air karena bisa merusak kualitasnya. Unik juga... :)

          3. Sekarang udah halal, tapi aku pake ini sebelum ada label halalnya, sayang dulu variannya belum sebanyak sekarang (cuma ada varian gingseng). Sekarang ada varian urang-aring, aloe vera, olive, moringa, bahkan tea tree oil! ^^

          Meski pakai Natur udah bertahun-tahun lamanya, aku rutin pakai shampo bebas-sulfat dan bebas-silikon baru kira-kira setahun lamanya. Dulu, aku pakai Natur selang-seling sama syampo merek X (yang sulfat dan silikonnya banyak). Karena saat itu, aku merasa merek X membuat rabutku lebih halus, bouncy, dan berkilau. Tapi, akhirnya aku sadar, X  membuat rambutku halus tapi sekaligus membuat rambutku mudah sekali lepek dan berminyak dan ujung-ujubfnya malah terlihat 'kempis'.

          SHORT REVIEW | THE BODY SHOP RAINFOREST SHAMPOO (VOLUME)

          1. Ini sampo favoritku sekarang, gapapa deh harganya lebih mahal, tapi syuka banget. Untuk varian Volume, aku udah habis 2 botol, ini yg ketiga. Sebelumnya pakai Balance, tapi bikin kering kulit kepalaku (padahal kulit kepalaku berminyak lho, mungkin karena kandungan alkoholnya??).

          2. Four Free System: Bebas sulfat (dia pakai surfaktan yang berasal dari kelapa/sama kaya Natur), Bebas Silikon (untuk pelembut/anti kusutnya, sampo ini menambahkan aneka minyak tumbuh2an, makanya lebih mahal. Kalau kalian punya shampo mahal ada silikonnya, buang aja... silikon itu sebenarnya murah meriah kok, hehe), Bebas Paraben (aku sebenarnya punya pendapat yang rada2 gak mainstream dengan paraben yang katanya menakutkan. Padahal ada lho pengawet yang harus betul2 dijauhi dibandingkan paraben, hehe), dan Bebas Pewarna.

          3. Teksturnya sangattt cair, lagi2 busanya sedikit karena bebas sulfat. Tapi, shampo ini lebih lembut dari Natur, karena memang mengandung aneka minyak. Dan aromanya enak banget.

          Aku pernah uji coba langsung di rambutku. Pertama, aku hanya pakai shampo X saja selama 2 mingguan, hasilnya frekuaesi keramasku jauh lebih sering karena kulit kepalaku cepat berminyak dan rambut cepat sekali lepek. Tapi saat menggunakan Natur saja, kulit kepala bisa terasa segar lebih lama, aku bisa keramas 2 hari sekali, tanpa lepek, dan rambut mengembang lebih bagus. Begitupula pengalamanku menggunakan shampo bebas sulfat dan silikon lainnya.

          Aku merasa tertipu dengan shampo bersilikon. Rasanya, kilau, rasa halus dan rambut yg bervolume indah seperti fantasi saja, karena tidak lama kemudian, rambut akan menjadi lebih buruk. Itu di rambutku, mungkin rambut tipe lain lebih bisa berteman dengan silikon. Konon, tipe rambut yang kering dan rusak cocok pakai shampo bersilikon, karena silikon berfungsi sebagai pelindung di bagian-bagian rambut yang rusak itu. 

          Kenapa Bebas Sulfat dan Silikon?
          Sebenarnya, tidak semua produk rambut bersilikon itu jelek kok. Boleh-boleh aja pakai, asal jangan berlebihan. Dan  untuk mereka yang rambutnya cenderung kering dan rusak, produk perawatan rambut bersilikon justru bisa mencegah kerusakan lebih parah dan bisa menyimpan kelembapan lebih lama.

          Tapi, kalau ingin KULIT KEPALA lebih sehat sebaiknya mengurangi shampo bersilikon. Karena menurut banyak spekulasi, lapisan silikon di kulit kepala bisa menghambat nurtisi yg harusnya diserap kulit kepala dan akar rambut (bukan rambutnya). Kerugiannya memang lebih kepada kulit kepala, sih. Tapi untuk batang rambutnya sendiri, konon bisa menghalangi zat warna yang masuk saat melakukan hair-coloring.

          Berbeda dengan sulfate, lebih baik dihindari deh, terutama sodium lauryl sulfate. Apalagi buat yang kulit kepalanya kering, sensitif dan kecenderungan alergi. Dan menurut beberapa studi, sulfat dikatakan sebagai salah satu biang kerok kerontokan rambut, karena mereka berkontribusi terhadap rusaknya folikel (akar) rambut. Itu katanya, tapi di sini aku cukup berbicara pengalamanku mengenai shampo bersulfat dan bersilikon.

          "Pakai Sampo Bebas Silikon dan Sulfat GAK ENAK!"
          Oiya, dari beberapa cerita yang kudengar, mereka yang baru memulai  menggunakan syampo bebas silikon, biasanya rambut  akan terasa 'kering', kusut, awut-awuan, ketombe, dan segala first impression yg gak banget deh. Tapi akan terasa 'normal' setelah pemakaian sampai kurang lebih satu bulan. Menurutku, kesan buruk itu wajar kok. Karena selama ini sudah dimanjakan oleh shampo-shampo bersilikon yang memberikan 'kesan' lembut dan bercahaya. Kalau ada yang ngeluh jadi ketombean, konon ketombe itu sebenarnya hasil build up silikon yang sudah menumpuk tebal di kulit kepala. Aku gak tahu masalah ketombe yang katanya hasil build up silicone yang kronis itu bener apa enggak, tapi banyak orang-orang yang mengalami itu pada awal mulanya, katanya itu semacam detox terhadap silikon.Wow, masa?

          Kalau yang baru memulai menggunakan shampo bebas sulfat, biasanya akan terasa kurang bersih karena busa yang dihasilkan syampo bebas sulfat memang tidak banyak. Tapi itu cuma perasaan aja. Kayak pake syampo homemade tradisional merang (ada yg pernah bikin?), gak berbusa, tapi rambut tetap bersih dan kesat.

          Lalu, bagaimana kesan-kesanku saat pertama kali menggunakan shampo bebas sulfat-silikon? Aku lupa. Soalnya pakai Natur udah lama banget. Udah gak inget gimana masa-masa adaptasinya. Dulu sih pake-pake aja, karena dibeliin si Mama. Aku juga lupa, sebelum Natur aku pakai shampo apaan. Tapi, karena aku pernah pakai selang-seling sama Shampo X tadi, jadi bisa deh sedikit membandingkan untung ruginya pakai jenis 2 shampo yang berbeda. Yah, seperti yang udah aku ceritain tadi.

          KONDISIONER
          Pakai kondisioner setelah bersyampo kayaknya udah wajib deh buat aku. Mungkin karena udah ritual, jadi kalau gak pake ada yang kurang. Apalagi sampo Natur kurang lembut (meski gak bikin rambut kering), jadi buat pelembutnya harus pake kondisioner lagi.

          Yang Dipakai?
          Aku pakai kondisioner dari Natur juga, varian urang-aring. Salah satu kondisioner lokal silicone-free favoritku. Suka banget sama produk Natur, dari sampo sampe kondi, cocok semua di kepalaku... :)

          SHORT REVIEW NATUR CONDITIONER URANG ARING
          SHORT REVIEW | NATUR CONDITIONER URANG ARING
          1. Pakai varian urang-aring biar rambut tambah item ^^ Aku suka banget sama cewek yang rambutnya hitam legam, apalagi panjang.
          2. Teksturnya thick sekali, tapi gak lengket/bikin lepek dan gak selicin kondisioner lain (mungkin karena bebas silikon). Aromanya biasa saja, ada sedikit bau green tea yang tidak terlalu menyengat.
          2. Cinta deh sama produk halal, apalagi kalau udah cocok banget kayak ini. Cupppppssss....
            
          Cara Pakai
          Untuk kondisioner, aku pakai tanpa mengenai kulit kepala. Didiamkan sesaat, baru bilas sampai bersih.

          TONIK
          Hmm, ini sebenarnya gak masuk rutinitas perawatan rambutku, karena aku terbilang jarang menggunakan tonik. Karena kulit kepalaku cukup sensitif dengan produk rambut beralkohol. Reaksi di kulit kepalaku biasanya kering dan guattal. Apalagi tonik rambut biasanya berkadar alkohol tinggi.

          Tonik yang kupakai?


          SHORT REVIEW NATUR TONIK RAMBUT ALOE VERA
          SHORT REVIEW | NATUR TONIK RAMBUT ALOE VERA
          1. Lidah buaya memang bermanfaat untuk menyuburkan rambut. Pakai ini, aku gak ngerasa rambutku tambah panjang, tapi anak2 rambut/rambut baru ku mulai bermunculan. Aroma jamunya tetap tercium, meski sudah diberi pewangi alami greentea, no problem, aku suka aromanya :)
          2. Aku paling suka hair tonik yang bibir botolnya meruncing, jadi bisa langsung kena kulit kepala, gak meleber2 dulu ke batang rambut. Sigh.
          3. Halal, alhamdulillah... :)

          Gak banyak dan dari sekian banyak tonik yang kucoba, gak banyak juga yang cocok. Paling cocok sejauh ini, Natur hair tonic. Aku gak tahu berapa kadar alkohol yang terkandung, atau malah tidak mengandung alkohol? Karena memang tidak dicantumkan komposisi lengkapnya. Kalau dicium sekilas sih tidak tercium aroma alkohol yang menusuk, mungkin ada dalam jumlah kecil atau malah tidak ada (aku harus tanya langsung kayaknya). Tapi sejauh ini, cuma tonik ini yang gak bikin kulit kepalaku kering dan gatal.

          SHORT REVIEW SARIAYU TONIK RAMBUT MAYANG SARI
          SHORT REVIEW | SARIAYU TONIK RAMBUT MAYANG SARI
          1. Nama tonik rambut ini mengingatkan kita kepada 'seseorang', mahaha... Meski ada alkohol dan ada ekstrak cabenya, tonik ini gak membuat kulit kepala ku teriritasi. Warnanya hijau lumut butek dan aroma jamunya lumayan tajam. Tapi bau2 ini malah sangat ku suka, karena mengingatkan masa kecilku (saat rambutku masih dirawat Mama dengan aneka jamu2an, yang dulu sempat ku benci.... :') )
          2. Ew, paling gak suka tonik rambut yang bibir botolnya datar...
          3. Halal juga... :)

          Aku juga pakai Sariayu Mayangsari Tonik Rambut. Ini ada alkoholnya juga (plus ekstrak cabe!), tapi anehnya cocok gak bikin kering & gatal (cabe gitu!!). Aku jadi penasaran, mau nyoba produk rambut sariayu yang lain seperti Cemceman-nya... :) Kalau shamponya enggak deh, SLS nya itu lho.... :'(

          Ngomong-ngomong, dulu aku pernah ngalamin kejadian buruk sama tonik rambut. Tepatnya,  tonik rambut Johnny Andrean. Itu pertama kalinya pakai toner rambut (jaman SMA) dan masih belum tahu kalau kulit kepalaku sensitif alkohol. Awal pake kok ada grenyem-grenyem di kulit kepala, gatel dikit. Besoknya kepalaku rasanya kering dan bawaan mau garuk-garuk aja. Gak lama, timbul bentol kecil di beberapa spot kulit kepala. Breakout. Gara-gara itu sempet kapok tuh pake hair-tonic manapun. Ternyata aku sensitif sama produk tersebut, karena kadar alkohol denatnya sangat tinggi, alkoholnya ada di urutan pertama dalam komposisinya *tepokjidat


          SERUM/vitamin/essence/apalah...
          Aku RUTIN pakai serum rambut baru akhir-akhir ini aja. Soalnya, dulu-dulu pakai serum rambut gak ada tuh yang hasilnya WUAAAHH. Ya, biasa aja gitu feelnya, pakai gak pake ya gak ada bedanya. Walaupun katanya, pakai serum rambut itu seperti investasi buat rambut kita. Memang gak langsung kelihatan hasilnya, tapi dipercaya akan membuat rambut kita jauh lebih sehat nantinya. Tapi, tujuanku menggunakan serum rambut, sebenarnya lebih kepada proteksi, terutama saat sebelum melakukan hairdrying.

          Serum yang Dipakai?

          SHORT REVIEW THE BODY SHOP GRAPESEED GLOSSING SERUM
          SHORT REVIEW | THE BODY SHOP GRAPESEED GLOSSING SERUM
          Serum ini lebih cocok digunakan untuk mereka yang memiliki rambut kering dan rusak, tapi gak masalah kalau rambutnya baik2 saja, gak akan tambah berminyak ataupun lepek kok. Bentuknya pump, dan teksturnya seperti minyak pada umumnya.
          Yang kusuka: hasilnya rambut menjadi ringaaan sekali, wanginya enaaaakkk, gak lengket, dan gak bikin rambut  lepek
          Yang kurang kusuka: Mengandung satu jenis silikon, so produk ini tidak akan kupakai di kulit kepala.

          Tadinya aku pakai aneka merek. Pakai Ellips, Loreal, Makarizo, sama Sunsilk. Gak ada satupun dari mereka yang sampai habis ku pakai. Trus, pas lagi jalan-jalan di Makeup Alley, aku gak sengaja nemu review The Body Shop Grape Seed Hair Glossing Serum. Ternyata pas aku klik, wah ratingnya tinggi juga. Reviewnya pun bagus-bagus. Akhirnya aku penasaran buat nyoba, soalnya emang belum pernah nemu serum yang cocok. Hasilnya: cukup puas. Sayang, masih mengandung 1 jenis silikon: Dimethiconol. Tapi better lah ya, mengingat serum rambut kebanyakan telah dipenuhi dengan kandungan silikon yang lumayan banyak. 

          Cara Pakaiku?
          Aku biasanya pakai serum ini sebelum melakukan hair-drying, saat rambut setengah basah. Karena, sekarang aku cukup sering juga mengeringkan rambut dengan pengering, jadi butuh proteksi ekstra. Cukup 3-4 pump, kemudian oles di batang rambut. Aku gak berani oles-oles di area kulit kepala, mengingat produk ini masih mengandung silikon. Setelah rambut dikeringkan, hasilnya langsung kerasa!! Berasa kayak gak punya rambut saking entengnya, slewerr... :D Ada deh bedanya, pake sama gak pake. Dan yang penting, serum ini gak berat dan lengket dsb.

          Trus, apakah serum ini membuat rambut lebih glossy (sesuai dengan namanya)? Aku gak bisa lihat bedanya. Secara, tekstur rambutku ya gitu-gitu aja, gak kering, gak kusam, gak rusak, cukup sehat, tapi ya gak berkilat-kilat juga kayak di iklan shampo XD. Namun, serum ini memang lebih ditujukan untuk pemiliki dull & frizzy hair. Mungkin jenis rambut seperti itu bisa lebih terlihat efek glossynya.

          MASKER RAMBUT
          Masuk ke perawatan rambut terfavorit, yeyey!! Aku emang gak terlalu suka maskeran di muka, gak rutin aja, sesukanya lah. Tapi kalau masker rambut, pasti 2-4 minggu sekali rutin aku lakuin. Meskipun untuk beberapa orang hal ini sedikit merepotkan.

          Masker rambut itu  semacam deep conditioning, fungsinya menutrisi lebih intens. Sekaligus merelaksasi kulit kepala yang lelah (menurutku sih, haha). Aku bisa ngerasain bedanya, rambut yang rutin hair mask sama yang perawatannya minus hair mask. Kalau rambut di masker, lembutnya beda. Alussssss banget. Rasa-rasanya mau megangin rambut terus.

          Hair mask yang kupakai?
          Hmmm, pokoknya bukan hair mask yang bermerek. Sejauh ini lebih puas bikin sendiri!! Dulu sempet nyobain Pantene, Makarizo, Sunsilk, Dove, Good dll, banyak deh pokoknya. Meski yg bermerek lebih praktis, pengalamannya gak sepuas bikin sendiri. Kadang, hair mask yang kubeli ada yang membuat rambut tambah kusam, berminyak, lepek, gak seger, walaupun awalnya terasa lembut. Ini emang karena gak jodoh aja atau karena (lagi-lagi) efek buruk silikon di kulit kepalaku yang berminyak ini?

          Yup, kalau diperhatikan rata-rata hairmask mengandung deretan silikon. Ini mengherankan, tujuan hair mask itu kan memberi nutrisi lebih ke kulit kepala, kalau mengandung silikon bagaimana cara nutrisi itu masuk? Mungkin masuk, tapi pastinya tidak optimal. Tapi, hair mask bersilikon mungkin memberi benefit tersendiri bagi pemilik dry & frizzy hair.

          Kembali ke homemade hairmask. Ada beberapa resep yang ku pakai untuk masker rambut rumahan. Adapun campuran yang paling sering kupakai adalah:
          1. Pisang + susu + Madu
          2. Alpukat + Madu
          3. ANDALAN: Yoghurt + Madu (Efek mantab, bikinnya gampang). Aku nyebutnya masker YOHO (yoghurt-honey), hehe... Tapi gak semua orang cocok sama yoghurt lho... Ada beberapa yang malah timbul jerawat di kulitnya.
          CARANYA?


          DIY YOHO HAIRMASK untuk satu kali pemakaian
          DIY  | YOHO HAIRMASK (untuk satu kali pemakaian)
          1. Bahannya: Madu Murni dan Plain Yoghurt
          2. Campur 1 sdm Madu dan 3 sdm yoghurt (atau satu bungkus ukuran 100cc)
          3. Mix!! Dan siap digunakan,
          NEXT...
          • Keramas seperti biasa
          • Keringkan rambut dari sisa air dengan handuk
          • Oleskan homemade hair mask dari pangkal sampai ujung rambut. Sambil pijat-pijat
          • Biar hasilnya maksimal, tutup kepala pakai handuk hangat (jadi handuknya udah dicelup air hangat terus peras, atau handuk bersih yang disetrika panas). 
          • Biarkan 5 menit. 
          • Bilas. Boleh pakai shampo lembut atau shower hangat saja.

          Nah, selesai deh perawatan rambut rutinku. Akhir kata, Sebenarnya, aku kepengen deh nyoba minyak-minyakan untuk rambut. Ada yang pernah coba-coba perawatan rambut rutin dengan minyak belum? Sejauh ini yang pernah sukses itu perawatan dengan minyak kemiri, Mamaku yang bikin sendiri (Mamaku emang demen ngerawat rambut anak-anaknya). Dan emang bagusss hasilnya, rambut jadi iteeeemm banget padahal dulu pas SD aku demen banget panas-panasan di bawah matahari.

          Love, Momzhak

          Baca juga :

          About

          Website ini mengenai review tentang produk Kosmetik. "menjadi cantik tak perlu mahal, tapi harus pintar dalam mencantikan diri"