Cari Di sini !

Showing posts with label Dry Skin. Show all posts
Showing posts with label Dry Skin. Show all posts

Sunday, 1 March 2015

Hada Labo Gokujyun Foaming Face Wash | Review


Sekarang lagi suka sama pencuci muka yang tipenya dipencet trus langsung keluar busa, kaya punya Hada Labo yang mau ku review sekarang ini, nih. Kesannya praktis tapi muka tetep terasa bersih.

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya pakai pembersih muka semacam ini. Dulu pernah pakai Sebamed Clear Face Cleansing Foam sama Acnes Foaming Wash, tapi cuma pakai sesekali aja, belinya pun cuma karena kepengen, hehe. Beda sama hadalabo yang ini, kepake terus dari pertama beli :D


 
 
Produk Hada Labo rata-rata memang cocok buat kulitku. Ada beberapa yang pernah aku coba dan membuahkan hasil, seperti: Hada Labo Shirojyun Essence, Hada Labo Gokujyun Lotion dan Hada Labo Retinol Lotion. Tapi untuk pembersih mukanya, cuma suka sama yang berbentuk foam seperti ini. 

Nah, sekarang yuk kita simak review-nya! Sekalian mau nyoba nulis review pake format baru, biar terlihat lebih rapi (mohon kritik sarannya :3)

Deskripsi Produk

  • Nama: Hada Labo Gokujyun Ultimate Moistirizing Foaming Face Wash
  • Produksi: PT. Rohto Laboratories Indonesia
  • Harga: IDR 30k
  • Isi: Nett 100 ml
  • No. POM: NA 18121202221
  • Bisa dibeli di: Supermarket, drugstore.


Pembershih muka berbentuk foam, melembabkan kulit 2x lebih lembab sekaligus mengangkat kotoran dan minyak dari kulit.
Tdak mengandung zat pewarna, pewangi, mineral oil, dan ethanol.
Sesuai dengan pH kulit, tingkat iritasi rendah

Cara pakai: Pompa Hadalabo Gokujyun Ultimate Moisturizing Foaming Face Wash Secukupnya pada telapak tangan. Usapkan ke seluruh wajah pelahan dan merata. Bilas dengan air. Hindari area mata.

Komposisi: Water, Butylene Glycol, PEG-400, Polyglyceryl-10, Laurate Tea-Cocoyl Alaninate, Disodium Cocoyl Glutamate, Sodium Cocoamphoacetate, Glycerin, Starch Hydroxypropyltrimonium Chloride, Succinic Acid, Methylparaben, Hydroxypropyltrimonium Hyaluronate, Sodium Acetylated Hyaluronate.
Ada yang sedikit berbeda. Biasanya, kalau tipe pembersih muka semacam ini, botolnya harus dikocok dulu sebelum dipump keluar, tapi di produk ini gak ada instruksi seperti itu.

Untuk komposisi, gak ada masalah. Hanya saja agak berbeda sama versi USA (lihat di sini).

Halal Certified?

Tidak, tapi Hada Labo bebas bahan yang berasal dari turunan hewan, jadi produk ini bisa jadi alternatif kosmetik yang sudah bersertifikat halal. Selain itu, Hada Labo juga animal tested free. Keterangan lengkapnya, bisa baca di postingan BCQ yang ini [click].

Kesan Menggunakan Produk Ini

Paling gak sabar kalau mau review skincare, soalnya gak langsung kelihatan hasilnya. Apalagi kalau skincarenya semacam moisturizer atau night cream, paling cepet dua minggu baru kerasa hasilnya. Atau kalau mau agak niat, ya nunggu 28 hari demi ngikut jadwal regenerasi sel kulit, heuheu.

Kalau produk ini, pas dipake pertama kali aja bener-bener langsung terasa hasilnya. Sampai publish postingan ini, aku baru pakai selama kurang lebih satu minggu. Tapiii... mungkin karena kulit wajahku emang lagi gak kenapa-kenapa, lagi gak kusam, lagi gak kasar, jadi pakai apapun terasa enak. Coba kalau kulit lagi memble?? :'D :'D


Yang Kusuka

Pertama, bentuknya foam yang praktis. Jadi, tinggal pump, langsung berbentuk busa. Biasanya aku pakai tunggal setelah bangun tidur (mau makeup) dan untuk membersihkan sisa milk cleanser saat membersihkan makeup.


Kedua, meski bentuknya foam tapi tetep bisa membersihkan tanpa bikin kering. Kemampuannya mengangkat minyak woke banget, tapi kalau untuk membersihkan makeup aku belum pernah coba. Kalau ritual membersihkan makeup, selalu kuawali dengan milk/oil cleansing dulu, baru setelah itu pakai produk ini.


Trus, gak bikin kering. Aku rasa karena pembusa yang dipakai memang low-irritant dan pastinya efek dari hyaluronic acid yang bisa mempertahankan hidrasi kulit, jadi kulit pun gak gampang kering. Pas dibilas pun gak terasa kesat.

Ketiga, mengandung hyaluronic acid (HA). Sebelum pakai Hada Labo yang paling getol mendengungkan HA sebagai jagoannya, dari dulu aku memang paling suka skincare yang mengandung HA karena memang HA yang paling ngefek di kulitku tanpa bikin break-out. Kalau dulu, aku pakainya rangkaian produk Sebamed seri Clear Face. Kalau seri Clear Face kan memang diperuntukan untuk kulit berjerawat, jadi pelembabnya pakai HA yang memang gak bersifat komedogenik/aknegenik. 

Memangnya, hyaluronic acid itu apa sih? 

Rata-rata orang bilang HA itu moisturizer (pelembab). Tapi, lebih tepatnya adalah sejenis humectant. Humectant adalah zat yang bisa menarik air dari luar dan mengikatnya, jadi dalam jumlah yang tepat mereka bisa mempertahankan kadar air pada lapisan kulit, agar kulit terhindar dari dehidrasi. Selain asam hyaluronat, ada glycerine dan aloe vera yang juga sama-sama humectant.

sumber gambar: futurederm.com
Berbeda dengan pelembab biasa yang berasal dari jenis minyak. Kalau minyak, cara kerjanya melapisi lapisan kulit agar tidak terjadi penguapan cairan yang bisa membuat kulit kehilangan kelembaban. Kekurangnya, jenis minyak banyak yang bersifat komedogenik dan terasa lengket dan pengap saat digunakan. 

Keempat, packaging. Semua pasti tahu, kalau kemasan adalah salah satu kekuatan dalam menjual produk. Walaupun produk yang dijual punya kualitas pas-pasan, dengan packaging yang mahal dan meyakinkan, pasti akan banyak orang membelinya. Untungnya, kalau produk ini sebelas dua belas sama efek yang aku dapat, hehe. 

Terakhir, produk ini gak bikin break-out alias jerawatan, komedoan, alergian, dan kawan-kawannya. Orang yang punya kulit berminyak dan acne-prone, emang gak bisa sembarangan pakai produk perawatan kulit, resiko break-out itu pasti selalu mengintai. Suka agak-agak ngeri nyoba produk baru, tapi kalau gak dicoba gak akan tahu mana yang cocok buat kita. Serba salah ._.

Yang Kurang Kusuka

Cuma satu, produk ini gak punya kemasan refill. Beda sama Acnes Foaming Wash yang mirip kaya gini, kalau Acnes menyediakan kemasan isi ulang dalam bentuk botol plastik tanpa pump, yang suka pakai produk Acnes pasti tahu deh.


Repurchase?

Sebenarnya aku biasa pakai pembersih muka yang udah lama dipake yaitu Ristra Med Soap. Tapi, karena harganya lebih mahal dengan komposisi yang gitu-gitu aja, mungkin akan pindah dulu ke Hada Labo yang ini (dasar gak mau rugi :P).
Jadi, repurchase dong ya...^^

Oke, itu saja ya. Semoga membantu buat teman-teman yang lagi cari ulasan tentang Hada Labo Gokujyun Foaming Face Wash.

Love, Momzhak.

Friday, 26 December 2014

Beauty Talk | Kenali Jenis Kulitmu


Setiap orang dilahirkan dengan satu macam tipe kulit, bisa normal, kering, berminyak, atau kombinasi. Kadang tipe kulit tersebut bisa berubah jenis menjadi kulit sensitif. Masing-masing memiliki ciri yang berbeda dan membutuhkan perawatan yang tidak sama.

Tipe kulit manusia ditentukan oleh genetik, jadi tidak mungkin orang yang terlahir dengan kulit berminyak berusaha merubahnya menjadi tipe kulit yang normal.  Tidak ada yang bisa membuat jenis kulit kita berubah. Kalaupun ada semacam cara, itu hanya mengurangi dan tidak selamanya.


Walaupun jenis kulit adalah bawaan lahir, ada beberapa faktor yang menyebabkan perubahan sementara pada kulit kita, yaitu:
  • obat-obat (pil KB, obat jerawat, siklus haid,  dll)
  • hormonal (menstruasi, kehamilan, pubertas)
  • Skin care
  • kondisi kesehatan secara umum
  • Cuaca, iklim, sinar UV, polusi.
  • Stress
  • Lifestyle (rokok, diet,dll)

Dan kali ini aku akan share ciri-ciri dari berbagai macam tipe kulit kita, agar kita bisa merawat kita secara tepat.

Kulit Normal

Beruntunglah orang yang memiliki tipe kulit normal. Karena tipe kulit seperti ini jarang mengalami permasalahan, tidak memerlukan perawatan ekstra, dan bisa sesuka hati bereksperimen dengan aneka macam makeup ataupun menjajal banyak macam perawatan kulit tanpa takut gampang breakout (yah, namanya saja 'normal' :D)


Mereka yang berjenis kulit normal, biasanya memiliki ciri seperti ini:
  • Tidak atau jarang mengalami keluhan pada kulit wajah
  • Kulit tanpak mulus, warna kulit merata, vibrant, elastis, supple, ah pokoknya yang bagus-bagus semua.
  • Kelembaban kulit seimbang, tidak terlalu kering, tidak juga berminyak
  • Kondisi kulit tidak terlalu banyak berubah sepanjang hari
  • Makeup cenderung awet

Kulit Kering

Biasanya, kulit seperti ini dimiliki oleh mereka yang sudah memasuki fase penuaan. Mereka yang berkulit normal, seringkali membutuhkan pelembab ekstra saat memasuki aging karena kulitnya cenderung lebih kering. Tapi, yang terlahir dengan kulit berjenis kering juga banyak.



Ciri dari tipe kulit kering adalah:

  • Keluhan utama, kulit seperti terasa tertarik terutama setelah mencuci muka atau di ruangan ber-AC
  • Kulit wajah tampak kering, keriput, kusam dan terkadang tampak kelupas halus (flakies)
  • kelembaban kulit tidak seimbang, kulit tampak dehidrasi.
  • Makeup awet, namun bisa semakin menonjolkan kekurangan si kulit kering bila penggunaannya berlebihan atau tidak tepat

Kulit Berminyak

Aku punya tipe kulit semacam ini, dan... memang merepotkan. Meski begitu memiliki kulit berminyak itu banyak hikmahnya. Aku jadi lebih care terhadap diri sendiri (tadinya cuek), menjadi orang yang sangat bersyukur di saat kulitku sedang mulus (gak sombong kalau lagi punya kulit bagus ;p), menjadi orang yang lebih teliti dalam memilih, lebih banyak ingin tahu, latihan sabaaar kalau mulai jerawatan, terlatih untuk terus berpikir positif, dan banyak lagi.

Bukan mitos kalau yg berkulit berminyak cenderung tidak mudah menua, karena minyak yang melapisi kulit memang bisa menahan kelembaban di atasnya. Awalnya aku kira itu omong kosong, atau sekedar 'mau nyeneng-nyenengin' kita yang kulitnya minyakan. 

Walaupun tidak mudah kering dan menua, orang dengan kulit berminyak bisa juga mengalami kekeringan karena kurangnya hidrasi atau karena pemakaian obat/skincare. 



Kalau kalian punya kulit yang mudah berminyak, cirinya seperti ini:

  • Keluhan utama kulit mudah berminyak dan berjerawat
  • Kulit tampak kusam, kumal, lengket, atau pori-pori besar.
  • Kelembaban kulit biasanya tidak ada masalah, namun meski berminyak kulit tipe ini bisa kering dan dehidrasi juga.
  • Makeup mudah luntur. Namun dengan kemajuan teknik dan ragam produk make-up, rasanya ini bukan masalah lagi (paling jadi sering ngaca buat ngecek :p)


Kulit Kombinasi

Kulit kombinasi itu biasanya ada 2 macam: Ada kombinasi normal-dry dan normal-oily.

  • Kalau kombinasi kering, biasanya normal-berminyak di area T-Zone dan kering di area pipi. 
  • Sedangkan yang kombinasi berminyak, memiliki tipe kulit oily di area T dan normal di area pipi. 

Konon kulit kombinasi itu jarang. Dan biasanya, orang yang memiliki macam kulit seperti ini harus pintar-pintar dalam merawatnya, karena mereka bisa punya dua masalah yang berbeda penanganannya dalam satu muka.

Kulit Sensitif

Sebenarnya kulit sensitif bukan tipe kulit utama pada wajah, karena setiap macam jenis kulit bisa berubah ke arah kulit sensitif, tergantung kondisi dan beberapa pencetus, misalnya saat kehamilan, penggunaan obat-obatan, dll.

Ada banyak pendapat yang mengelompokkan kulit sensitif  ke dalam salau satu jenis kulit utama, tapi aku mengambil pendapat yang pertama tadi.



Ciri kulit sensitif yaitu:
  • Keluhan utamanya, kulit mudah terbakar sinar matahari dan sering tidak cocok dengan berbagai produk perawatan kulit. 
  • Kulit sering tampak memerah dan iritasi
  • Berhati-hati dalam memilih jenis make-up

Nah, itu saja. Kalau tipe kulitmu apa, ya?


Referensi:


Tuesday, 23 December 2014

Masalah Kulit Badan Yang Kering, Mandi Tanpa Sabun atau Pilih Sabun Natural??

qonitas - Salah satu jenis kosmetik yang paling ribet kucari adalah sabun mandi. Rasanya jauh lebih susah dibanding nyari suami idaman *maaf para Jones :p

Disaat kulit wajahku berminyak, di beberapa area kulit seperti kaki dan tangan malah cenderung kering. Dan keringnya gak cuma sekedar kering, tapi kering yang bikin gatal. Jadi, memilih sabun pun harus hati-hati, mengingat aku pun sedikit malas mengoleskan pelembab di badan.


Sampai Baba pernah bilang gini,"Yaudah, pakai batu kali aja kayak orang dulu. Tinggal digosok-gosok doang..."

Hehehehe...

Tapi sekilas memang pernah baca di sebuah forum online yg menyinggung masalah mandi tanpa sabun. Iya, mandinya cuma pakai air aja. Hmm, gimana rasanya tuh??

Masuk akal juga ya, karena pembersih badan itu memang cenderung bikin kulit kering (apalagi yang kulitnya emang kering kaya eke). Kenapa:
  • Kalau pakai sabun biasa (sabun yg dalam pembuatannya pakai lye/soda), biasanya pH nya alkali, bisa di atas 7, sedangkan kulit kita pHnya 4-5. Nha, pH yang alkali ini lah yg membuat kulit jadi kering, karena acid mantle pelindung kulitnya terkikis
  • Kalau pakai sabun yang pembusanya pakai detergen (biasanya ada kandungan sodium laury/laureth sulfate), bisa bikin kering juga karena bahan tadi sifatnya iritan. Tapi, kalau kalian kulitnya gak bermasalah dengan bahan di atas, ya gak apa-apa.

Setelah itu, aku baca-baca lagi mengenai ide tersebut. Ternyata banyak yang sukses dan ada juga yang gatot karena gak tahan sama bau badan atau kulit kasar dan kusam. Aku baca juga dari blog blogger luar yang bertahun-tahun mandi tanpa sabun dengan berbagai alasan, dari alasan kesehatan sampai lingkungan, dan mereka masih ngeksis aja tuh :p

Oke fix, aku harus coba no-soap!! Tapi kalau sampoan sih tetep (i cant imagine my oily scalp skipping out on shampoo! Mau jadi apa rambutku??).

Oiya, dan tanpa Batu Kali :D

Water-Only Washing

Water-only washing ini hanya saat mandi ya, karena kalau sehari-hari aku tetap sering mencuci tangan dengan sabun/cairan antiseptik mengingat aku breaktifitas di tempat rentan infeksi.

Mandi tanpa sabun bisa kubilang ide yang bagus, karena bisa menahan acid mantle pelindung pH alami kulit kita yang sering tersapu oleh alkali sabun ataupun bahan iritan macam sulfat.

Awalnya aku memang menikmati semua ini, sebelum aku ingat kalau aku memang punya bakat kulit berminyak, jadi gak semuanya kering. Jadinya, setelah sekian lama mandi tanpa sabun, pada beberapa area seboroik di badanku mulai berontak. Iya, akhirnya aku sukses berkomedo dan berjerawat di beberapa area tersebut terutama di punggung dan dada.

Sekedar info, area seboroik/seborrheic adalah area di tubuh kita yang memilik banyak kelenjar minyak (glandula sebesea). Area tersebut meliputi kulit kepala, wajah, dada, pungung dan sela paha. Kalau yang kulit wajahnya berminyak, biasanya area seboroiknya juga memproduksi minyak berlebih.

Kalau di luar area seboroik, kulit punya kelenjar minyak yang sedikit. Makanya gak pernah denger kan betis yang ditap-tap oil paper gara-gara banjir minyak? Atau tangan jerawatan? Kalau ada yang mikir bisul, itu beda lagi. Bisul mah folikulitis/furunkel, bukan acne, hehe.


Kembali ke mandi cuma pake air.

Kalau ada yang mikir sama seperti Baba, kok orang kita dulu kulitnya tetep bagus meski hanya mandi dengan batu gosok? Jawabannya: mungkin saja orang dulu yang kelenjar minyaknya sangat aktif juga jerawatan, bisa jadi malah lebih parah. Acne kan udah ada dari jaman nabi, bukan penyakit baru kaya flu babi.

Kalau ada yang mikir, kenapa orang-orang ada yang survive menjalani no soap washing tanpa keluhan? Jawabannya, tipe kulitnya apa dulu? Kalau tipenya normal, jarang mandi aja gak akan ada masalah, paling jadi kusam. Kalau tipenya kulit kering, malah bagus lho mandi gak pake sabun. Area kulitku yang kering malah jadi bagus kalau gak sabunan.

Gara-gara ini lah aku sampai mikir, yaudah, sabunin area yang gampang berminyak aja deh, yang lain enggak. Tapi dipikir-pikir gak lucu. Tanggung, malah tambah ribet, hehe.

Oiya, beberapa orang mengeluhkan bau badan saat mencoba teknik mandi seperti ini, namun aku sendiri tidak mengalami hal serupa, biasa aja. Seberkeringat apapun badanku jarang mengelurkan aroma menyengat, makanya jarang juga pakai deo atau semacam bedak-bedakan. Yang bikin sebel hanya jerawat itu saja.

Emang salahku juga sih karena cuma sekedar ngikut tips/tren, tapi gak menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Lagipula, kalau memang no soap ini bagus dan cocok untuk semua orang, arkeolog gak akan menemukan sabun purba yang usianya setua Piramida Giza.

Maka, berakhirlah ritual mandi tanpa sabun, dan jerawat badan pun jauh berkurang. 

SABUN HOMEMADE-NATURAL-ORGANIC-EVEN WITHOUT DANGEROUS CHEMICAL INGREDIENTS-BALABALA

Aku udah coba aneka macam sabun. Jelas, sabun mandi jebolan Unilever, Kao, dll sudah lama kutinggalkan. Sabun-sabun yang agak mahal yang dijual di drugstore, belum pernah ada yang kucoba karena rata-rata masih menggunakan surfaktan atau pembusa yang murmer semacam SLS/SLES.

Kalau ada yang pernah baca ceritaku tentang sabun mandi di blog lamaku, mungkin kalian ingat aku sejak lama pakai Pigeon baby wash, sabun cair tanpa sulfat yang gampang dibeli dimana-mana. Sejauh ini, itu yang paling cocok. Tapi, seiring berjalannya usia, pengen juga pakai sabun yang wanginya enak-enak, kemasannya lucu-lucu dan bukan sabun bayi.

Intinya, aku masih butuh pembersih saat mandi, tapi pembersih seperti apa? Idealnya ya bebas SLS/SLES, gak terlampau alkali, ada pelembab ekstra dan mudah dicari (tapi plis lah jangan Pigeon lagi).

Dan, aktifitas jajan berbagai merk sabun sempat dimulai lagi...

Pertama, aku pilih merek yang klaimnya natural, blabla (seperti subjudul diatas). Biasanya sabun dengan cap natural dan semacamnya memang hadir tanpa surfaktan yang bersifat iritan untuk kulit. 

Tapi, aku rasa sabun natural juga gak sepenuhnya bagus. Kenapa? Karena sabun natural itu sebenarnya sabun kovensional atau sabun biasa Sabun konvensional itu komposisi utamanya lemak dan cairan soda (lye), nah soda ini sifatnya alkali dan bisa bikin kulit kering. Jadi, kalau kita cocok-cocok aja sama sabun 'jaman sekarang' yg pembusanya pakai surfaktan/detergen, ya pakai aja.

Awalnya aku takut-takut pakai sabun homemade. Tapi lagi-lagi kekuatan review dan testimoni sukses bikin aku berani untuk coba-coba. Yah seenggaknya gak mengandung SLES/SLS yang bikin kering PLUS menyumbat pori-pori.

Merk sabun yang pertama kali aku gunakan adalah Green Mommy Shop (GMS). Jauh sebelum aku pakai sabunnya, aku memang suka beli minyak-minyakan semacam carier oil dan essential oil di GMS, soalnya relatif murah.

Klaim produk ini hampir 100% natural plus organik, walaupun aku sendiri sebenarnya belum terlalu menaruh hati dengan produk organik yang dibuat homemade di Indonesia. Bukannya gak percaya, Tapi di sini, kosmetik organik belum memiliki semacam badan pengawas resmi yg memberikan sertifikat organik. Kalau pun mau sertifikasi, ya harus dari luar misalnya macam USDA organic atau EcoCert. Jadi, alangkah baiknya bila ada badan/lembaga yang mengawasi proses produksi, agar konsumen lebih merasa tenang.

Balik ke GMS.

Sabun GMS yang aku pakai adalah Cacao Soap (motifnya lucu, deh) dan Vege Soap. Awal mula dipakai langsung terasa kesat. Beberapa kali mandi pakai sabun Cacao ini, kulit malah tambah kering, kemudian dicoba di muka kulit malah ngelupas. Yang Vege pun mirip dengan sabun biasa, gak terlalu ngeringin kayak cacao tapi kulit tetap busik setelahnya.

Aku memutuskan gak mau lagi nyoba sabun GMS lagi, lanjut beli minyak-minyaknya aja, hehe.Tapi, mungkin aku juga yang keliru milihnya, harusnya aku pilih Castile Soap yang ada olive oilnya. Atau bisa jadi karena ini sabun natural, yang kualitas setiap batch nya mungkin tidak selalu sama dengan batch sebelumnya.

Btw, membuat sabun natural itu memang gampang, tapi cukup tricky meski pas pembuatannya udah pakai 'soap calculator' (google it). Kalau gagal bikin, bisa-bisa kulit kita seperti mandi sabun cuci.

Dulu, aku pernah bikin sabun batangan sendiri. Tapi, karena kandungan fat/minyak yang aku tambahkan kurang dari yang seharusnya (karena takut gagal) maka ya sama saja... aku bak pakai sabun cuci piring. Keset! Tapi, kalau basa/soda yang kita tambahkan kurang, sabun cenderung lembek. Pernah bikin yg kedua kali, sukses juga akhirnya. Tapi mau bikin lagi males, hehe. 

Sempet skeptis kan sama sabun-sabun natural gitu. Tapi lagi-lagi gak kapokan. Akhirnya nyari-nyari lagi rekomendasi sabun natural yg bagus. 

Merek selanjutnya yg kupakai yaitu The Bath Box (TBB). Merk ini mengusung produk natural dan organic juga, tapi TBB punya kemasan yang lebih caem dari GMS (kesannya lebih meyakinkan, haha).

Pertama yang aku beli Milk Tea. Walau sabun batang, ini gak ngeringin, tapi pas awal bilas emang agak sedikit kesat. Setidaknya, pengalaman pakai TBB jauh lebih baik dari sabun batangannya GMS. Aku pakai ini sampai habis.

Sabun TBB Milk tea, selain preservatives free, dia mengandung susu kambing organik. (Btw, setahuku, hampir semua kambing itu organic ya gak sih? Kan makannya cuma dedaunan liar, gak dikasih suntik ini itu dan bukan hewan yang biasa dimodifikasi genetik/GMO? Beda sama sapi. Thats why, daging kurban jarang ada yang gemuk.)

Nah, susu kambing inilah yang membuat sabun ini lebih ramah untuk kulit meski dalam pembuatan sabun tetep pakai NaOH sebagai basa/soda. Kenapa? Konon, pH dari susu kambing itu relatif asam, mendekati pH alami kulit manusia, jadinya sabun tadi bisa dibilang pH nya balance.

Yah, someday, pengen nyoba sabun cairnya yang Goats Dont Lie, yang jadi best sellernya TBB itu. Mbeeekk... :3

FYI, sebenarnya produk cair yang gak pakai pengawet itu sungguh-sungguh riskan dengan kontaminasi. Nah, kalau pun ada produk cair yang non preservatif yang relatif lebih tahan lama, ya paling sabun cair atau shampo. Tapii... konsekuensinya sabun atau shampo tersebut harus punya kadar alkali yang relatif tinggi agar mikroorganisme ogah tumbuh, tapi kalau terlalu alkali ya kulit cepet kering. 

Makanya, buat produk-produk homemade yang tanpa pengawet macam ini, aku jarang beli yg ingredientsnya mencantumkan 'air'.

Kalau mau pilih produk homemade-natural/organic-no preservatives, aku sarankan beli yang anhydrous, yaitu yang gak ada kandungan airnya. Kenapa? Karena tanpa air = tidak ada kehidupan. Termasuk jasad renik.

Yg anhydrous tuh contohnya apa? Misalnya, aneka minyak,  lip balm, body balm, masker bubuk, scrub bubuk dan sabun batangan (karena kandungan airnya menguap. Ya, kecuali kalau udah kena air, cepat habiskan). Untuk body butter rata-rata anhydrous, kecuali merek Utama Spice (natural cosmetics yang aku suka dari dulu).

Kembali lagi ke sabun natural dkk.

Seneng deh nyoba-nyoba sabun gini, Tapi, yang bikin segan, aku harus beli secara online. Lebih suka lihat, beli dan langsung pakai. 

Akhirnya, aku coba-coba Original Source yg lebih mudah didapat. Yang natural memang hanya fragrancenya aja, dan dia masih pakai SLES sebagai pembusa. Akhirnya, nyoba yang botolan kecil dulu, takut gak cocok. Eh bener deh, kulit kering habis pakai Original Source dan terlalu lengket selepas dibilas, padahal merek ini merupakan produk animal cruelty free dan vegan friendly, ditambah wangi pepermint nya jos banget.

Sempet lihat merk Oleum yang non SLES/SLS plus dikasih aneka minyak-minyakan, tapi mengandung collagen. Semenjak addict sama halal cosmetics, jadinya agak hati-hati sama kandungan syubhat.

Masih agak takut coba sabun-sabun homemade merk lain. Tapi, aku mungkin bakal nyobain TBB yg Goats Dont Lie aja deh, apalagi itu sabun cair, kayaknya bakal cocok. Padahal, kita lagi kebanjiran homemade soapmaker lokal, lho. Misalnya Sensatia, Skin junkie, Bali Alus dll yang bikin laper mata mau coba-coba.

Okelah segitu saja.

Akhirnya, sekarang balik lagi ke Pigeon, kadang-kadang nerapin no-soap juga, terutama saat mandi pagi (kan kalau pagi-pagi badan masih bersih).

UPDATE: Akhirnya sekarang pakai Moayu Bath Gel (Halal certified + non SLS/SLES :) :) )

Baca juga :

About

Website ini mengenai review tentang produk Kosmetik. "menjadi cantik tak perlu mahal, tapi harus pintar dalam mencantikan diri"