Cari Di sini !

Showing posts with label The Body Shop. Show all posts
Showing posts with label The Body Shop. Show all posts

Friday, 10 January 2014

Hand & Nail Care | Obrolan dan Review 8 Hand Cream Yang Pernah Kucoba

Assalamualaikum, Hai Semuanya! ^^ Kalau dalam Islam, wanita adalah keindahan yang terbentang dari ujung rambut hingga kakinya. Namun, saat memasuki masa aqil baligh, hanya ada dua perhiasan saja yang boleh terlihat oleh non-mahram, yaitu wajah dan tangan (yang meliputi punggung dan telapaknya). Kalau begitu, sudah sepantasnya keindahan tangan harus dirawat seperti halnya kulit wajah.

Tapi sayangnya, kita seringnya lebih terfokus merawat area kulit yang lain. Jadi, tidak heran kalau kulit tangan sering terlihat kurang terawat dibandingkan wajah dan anggota tubuh lainnya.
Review Hand Cream


Aku pernah lihat perempuan berusia 50 tahunan yang tampak 10 tahun lebih muda. Wajahnya cantik, makeupnya jago, tidak terlihat kerut di wajah maupun di lehernya. Pokoknya tipikal perempuan yang hi-maintenance, deh. Tapi, ada satu yang menarik perhatianku: punggung tangannya. Punggung tangannya yang kering, keriput, dengan skintone yang lebih gelap dari kulit wajah dan lehernya, membuatku percaya kalau perempuan itu memang seusia ibuku :)

Ini sih contoh ekstrimnya :D
Wajah boleh bebas kerut, namun kulit tangan sulit berbohong.
Sumber: drpersky.com
Pengalamanku dan gambar di atas mungkin bisa menjadi sedikit gambaran, kalau kulit area tangan juga harus mendapatkan perawatan seperti kulit lainnya. Apalagi, kulit punggung tangan merupakan salah satu area kulit yang paling cepat proses penuaannya. Selain itu, kutikula kuku kita pun sering mengalami kekeringan, terutama untuk kalian yang memiliki pertumbuhan kutikula kuku yang cepat dan masif.


Jangan Lupa Sunscreen Untuk Tangan Kita 

Terutama buat Muslimah yang berhijab. Tangan adalah area yang paling sering terekspos sinar matahari. Kalau kulit wajah sih, tanpa disuruh pun kita selalu waspada dengan paparan radiasi sinar UV. Kalau kulit tangan? Lebih banyak lupanya, ya kan? Makanya gak usah ngeluh-ngeluh kalau jilbaban tangan jadi belang, hehe.


Jangan Lupa Oleh Hand Cream

Gak harus sedikit-sedikit ngoles, sedikit-sedikit ngoles. Kalau gitu juga ribed. Pakai saja sesuai kebutuhan, misalnya: Kalau sering tinggal di ruangan ber AC atau setelah mencuci tangan. Coba, siapa sih contoh orang yang paling demen cuci tangan? Pertama, ibu rumah tangga, kan IRT sering banget melakukan pekerjaan yang berhubungan dengan air, bahkan dengan detergen yang membuat kulit kering. Kedua, tenaga medis (dan orang yg bekerja di RS). Apakah itu dokter, perawat, bidan, dkk kalau mereka mengikuti standar kesehatan (dan harus mengikuti, dong!), setiap selesai memegang pasien harus mencuci tangan dengan sabun atau menggunakan cairan antiseptik (sejenis hand-sanitizer gitu). Ketiga, pasien OCD yang phobia-kuman. Pasien tsb bisa membuat kulitnya kering, iritasi bahkan terluka karena terlalu sering mencuci tangan. Oiya, OCD di sini bukan semacam program diet ya, haha. OCD itu singkatan dari obsessive-compulsive disorder. Google sendiri :p

Kalau ngoles krim tangannya gak pakai hand cream khusus boleh gak? Misalnya, pakai body lotion.

Oh, boleh banget. Namanya juga henbodi, hehe. Maksudnya, dulu body lotion sering disebut dengan hand and body lotion, kan? Lha, kok 'hand' doang ya? Emang kaki gak termasuk? Nah, karena dirasa kurang adil, sebutan hand-and body lotion akhirnya mulai dicoret dari istilah perkosmetikan, wekekek. Abaikan.

Cuma, kalau bodylotion itu biasanya kan berat, ukurannya botolnya gede (tapi banyak juga sih yang jual travel-sizenya) dan kebanyakan teksturnya lebih thicky. Tapi, ya suka-suka, lah. Intinya boleh saja pakai bodylotion untuk alternatif handcream.

Kalau aku sendiri punya beberapa standar dalam memilih hand-cream, seperti:
  1. Gak lengket. Awalnya aku juga cuma pakai bodylotion untuk perawatan tangan dan kuku. Tapi, karena rata-rata bodylotion itu lengket, akhirnya aku putuskan untuk mencari yang namanya hand-cream untuk pelembab khusus tanganku. Tapi ternyata gak semua hand-cream itu enak dipake, Sodara!! Banyak juga yang lengket. Lah, kalau begini apa bedanya sama pelembab badan? 
  2. Ukurannya mini. Kalau ada handcream yang ukurannya gede, mending ganti judul aja jadi body butter sekalian XD
  3. Wanginya enak. Tangan seorang ibu itu harus wangi. Meskipun dia ibu rumah tangga. Soalnya seorang anak itu bisa mengalami pengalaman buruk cuma karena bau tangan. Kedengerannya emang lebay sih, tapi  dulu waktu jaman TK, aku pernah phobia cium tangan! Gara-garanya, seorang guruku pas kucium tangannya (salaman), tangannya tercium bau muntah bayi! *wekz. Pernah lagi pengalaman cium tangan teman ibuku, dan baunya gak bisa aku deskripsikan, antara bau balpirik dengan bau tangan yang habis milih-milih sayur di pasar. Pernah juga nyium tangan ibuku yang kebetulan lagi bau minyak urut (ternyata baru ngerik bapakku, haha), langsung mood aku berubah saat itu juga.
  4. Halal/Animal Derivatives-Free
  5. Mengandung UV protector. Ini gak wajib sih, tapi jadi nilai plus tentunya. Kalau untuk perlindungan matahari, biasanya aku pakai sunscreen untuk wajah saja.
  6. Harganya terjangkau dong (teteup). Gak deh beli handcream mahal-mahal kalau bisa nemu yang murah dengan efek yang serupa.

Hand Cream Yang Pernah Kucoba

Di bawah ini adalah handcream yang DULU pernah aku coba, baik beli sendiri, nyoba tester atau coel punya orang lain, hehe.

1. L'Occitane Immortale Brightening Hand Cream SPF 20

Ini nyoba punya nyokap. Buat ukuran handcream, ini kemahalan buatku. Kabar buruknya lagi, ini lengket!! Mungkin emang cocok untuk tangan-tangan yang sudah mengalami aging dan seri Immortale dari L'Occitane ini memang ditujukan untuk mereka yang sudah mengalami/memasuki masa penuaan. Gak heran, kalau SPFnya juga gede, hal ini menunjukan kalau sinar matahari memang memiliki pengaruh besar terhadap cepatnya penuaan di kulit. 

2. L'Occitane Shea Butter Hand Cream



Aku gak ngerti kenapa testimoni orang-orang bagus banget terhadap hand cream yg satu ini?? Ini handcream pertamaku, tapi bukan beli sendiri sih. Awalnya, ini milik ibuku, tapi karena katanya kurang suka dengan baunya, akhirnya dikasih lah ke aku (sebenarnya aku duluan sih yang minta, wekekek). Teskturnya rich and creamy. Pas di oles pun meninggalkan kesan berminyak, terutama di telapak tanganku (ini yang buat aku bingung kenapa testi orang-orang kebanyakan positif). Yah, mungkin lebih cocok untuk orang-orang yang kulitnya sangat kering atau mereka yang hidup di iklim dingin. Akhirnya, hand cream ini gak pernah kupakai lagi.

3. The Body Shop Wild Rose Hand Cream SPF 20 (for Mature Skin)


Aku cuma cobain testernya aja. Aroma mawarnya kurang enak, kayak bau obat-obatan, aneh lah pokoknya. Itulah yang membuat aku untuk tidak membelinya, padahal udah plus SPF 20. Untuk teksturnya, terasa lebih rich dari seri Almond yang saat ini kupakai. Hand Cream Wild Roses ini cocok untuk mereka yang sudah/akan memasuki 'aging'.

4.  The Body Shop Moroccan Rose Hand & Nail Cream



Salah satu handcream terbaik yang pernah ku coba. Aku pakai sampai habis, sayangnya varian Moroccan Rose memang sudah tidak dijual lagi. Yang paling kusuka adalah aromanya yang super enak, selain itu handcream ini mudah meresap dan tidak lengket. Dan ini satu-satunya kemasan handcream yang paling kusuka di antara handcream yang pernah kucoba: travel friendly, kemasannya tidak mudah rusak, dan tutup flip-flop pada tubenya.

5. Etude House 'I Can Fly' Hand Cream (Cherry)

Bentuknya sih emang unyu, bagus buat jadi pajangan di meja rias (emak-emak?). Tapi, kurang travel friendly, efek melembabkannya biasa saja and lil bit sticky. Akhirnya gak pernah ku pakai lagi, cuma jadi pajangan sampai akhirnya adikku nodong-nodong minta dikasih, haha. Baiklah dik, ini lebih cocok buatmu... :)

6. Viva Cosmetics Hand and Nail Cream


Ini hand-nail cream lokal yang super murah, kayaknya gak nyampe 10 ribuan. Gak lengket, sangat mudah meresap, ukurannya kecil dan bisa masuk pouch makeupku tanpa makan tempat. Tapi untuk orang yang tangannya sangat kering, sepertinya ini kurang direkomendasikan. Kalau untuk pencegahan, ini bisa jadi alternatif. Sayangnya krim ini hilang gak tahu kemana, sampai lupa mau repurchase lagi.


Handcream Yang Kupakai Sekarang

Favoritku pertama adalah Oriflame Silk White Glow Hand Cream
Kelebihan: Wanginya enak banget dan tahan lama, testurnya ringan, mudah meresap (matte finish), harganya terjangkau, dan travel friendly. Mengandung ekstrak mulberry dan cherry blossom (bunga sakura??)  yang katanya sih bisa merawat kulit tangan yang menghitam akibat sinar matahari. Kekurangannya: Apa ya? Mungkin harus pesan dari MLM jadi agak susah kalau mau beli lagi (belum lagi kalau produknya ternyata sudah discontinue).

Handcream yg sedang kupakai sekarang :)

Favorit kedua adalah The Body Shop Almond Hand and Nail Cream

Kelebihannya: Aromanya enak (aku suka banget aroma almond!! ><), kelembabannya tahan lama (meski setelah mencuci tangan), melembutkan kutikula kuku, dan harganya terjangkau. Kekurangan: Meninggalkan kesan berminyak untuk sementara waktu. Dan kemasannya yang terbuat dari alumunium. Jadi, kalau sekali dipencet, kemasannya gak akan balik lagi seperti semula, gak travel friendly, karena kemasannya akan mudah rusak/bocor, khawatir isinya bisa keluar kemana-mana.

Kekurangan keduanya adalah, krim tangan tersebut tidak mengandung SPF.


Apakah Produk Di Atas Halal?

L'Occitane, The Body Shop, dan Oriflame klaimnya cocok untuk Vegetarian, dalam artian tidak mengandung bahan turunan hewan yang diragukan kehalalannya. Untuk Viva Cosmetic sampai saat ini masih mengantongi sertifikasi halal dari MUI. Sedangkan Etude House tidak diketahui, meski banyak produknya mengusung produk yang tidak mengandung unsur hewani.

Sekian dulu obrolan hand-cream malam ini. Semoga informasi dan reviewnya membantu, ya.

Wassalam :D

Monday, 2 September 2013

Hair Care | Sharing Perawatan Rambut Rutin (Plus Short Reviews)

Assalamualaikum Qonitas. Tadinya, aku mau kasih judul ' Perawatan Rambut Berhijab '. Tapi, dipikir-pikir enaknya sharing haircare routine ku aja kali ya? Lagian, perawatan rambut yang berhijab sama yang enggak, rata-rata sama aja, kok. Kalau dibilang lebih ribed-enggaknya, itu relatif menurutku. Plus beberapa short review, ya..

Dan, sebelum masuk ke Sharing Perawatan Rambut Rutin tentang hair care-ku dan yang lainnya, aku mau cerita seputar karakter rambut ku dan masalah rambut yang paling sering aku alami. Kali aja, ada blogwalkers  yg senasib sepenanggungan, hehe.

Karakter & Kondisi Rambut
  • Tipe kulit kepalaku normal to oily. Menyesuaikan dengan kulit wajahku yang tipe berminyak. Biasanya, jenis kulit kepala itu emang gak jauh berbeda dengan tipe kulit wajah.
  • Tekstur rambutku ini gak lurus, gak keriting juga. Bergelombang mungkin, ya? Kata mamaku, tipe rambut anak-anaknya 'ikal mayang', pernah denger istilah itu ga? Aku juga baru denger dari mamaku aja, hehe. Tapi gelombangnya cuma keliatan kalau rambutnya panjang. Kalau pendek sih seakan-akan kayak rambut lurus biasa. Ada yg punya jenis rambut macam ini? 
  • Warna hitam pekat. Aku suka berambut hitam, sampai sekarang belum terpikir untuk hair-coloring. Rambut hitam membuat wajah kelihatan lebih bright, IMO ^^
  • Aku jarang berambut panjang, biasanya pendek bawah telinga s.d bahu. Kenapa? Lanjut aja deh bacanya, :P
  • Kondisi rambutku ini masih terbilang 'virgin', belum diperawani oleh berbagai macam alat-alat rambut berat dan unsur kimiawi yang keras, alias belum pernah hair-coloring, hi-lite, smoothing, catok, dll. Cuma hairdryer-blow aja
  • Dan terakhir, rambutku berhijab  sejak kelas 1 SMP, cerita lengkap [click] di sini. Dan sehari-hari rambutku biasanya tertutup selama kurang lebih 10 jam

Masalah Rambut
Apa ya, kayaknya gak pernah ada masalah besar. Kalaupun bermasalah, itu temporer aja. Paling cuma susah panjang, meski dipakein ini-itu. Kata mamaku, dari kecil rambut aku ini emang bandel, udah dikasih macem-macem biar panjang, tapi lama banget panjangnya. Setahun pelihara rambut, gak sampe 10cm pertumbuhannya, sedangkan adik-adikku udah mulai potong rambut lagi karena udah terlalu panjang.  Akar rambutku emang termasuk kuat sih, jarang rontok, tapi susah mau dipanjangin. Inilah alasanku kenapa jarang berambut panjang. Karena panjangnya selalu nanggung segitu-gitu aja akibat lama tumbuh, ujung-ujungnya bosen dan potong. Ada yang gini gak sih??  T_T

Eh, dulu pernah waktu SD rambut jadi kutuan, arrgh. Gara-gara kemping pramuka 3 malam, tidur berdesakan dengan teman-teman lain. Entah siapa yg menularkan gerombolan Pediculus humanus capitis ke kepalaku, hiks. Tapi akhirnya ilang juga setelah pake anti-kutu, ditambah dicariin terus si telor-telor kutunya sama si Bibik tiap pulang sekolah. Aku jadi kesel sendiri waktu tahu rambut kutuan, soalnya kucing-kucingku aja gak ada yg berkutu, eh akunya malah kutuan. Haha. Yasudah. Anw, nulis pengalaman berkutu jadi kebawa sugesti sendiri, jadi gatel kayak ada yang jalan-jalan di atas kepala... *garuk2

Oiya, rambutku emang cepet lepek karena kulit kepala kan normal-oily, tapi bisa hilang dengan keramas rutin. Gatal di kulit kepala juga suka, tapi itu karena lagi jorok alias males keramas, lol. Misalnya, kalau lagi libur panjang, aku paling males keramas, hihi. Tapi di luar holiday, aku paling strict ngurus rambut. Intinya, kalau dirawat baik-baik, kayaknya gak ada problem apa-apa.

*****

KERAMAS
 

Frekuensi
Frekuensi mencuci rambut itu relatif, hampir gak ada batasan harus berapa hari sekali. Semua tergantung jenis kulit kepala dan aktifitas masing-masibf orang. Jadi harus dilihat case per case. Misalnya aku, aktifitas memang tidak terlalu sering berkeringat namun jenis kulit kepala normal-oily, jadi frekuensi keramasnya bisa 2 hari sekali. Atau setiap hari, kalau sedang banyak berkeringat dan saat frekuensi pengeluaran sebum kepala lagi banyak-banyaknya (misalnya pas udah mau deket-deket haid). Sejorok-joroknya 3 hari sekali, itupun rasanya udah gak keru-keruan.

Untuk mereka yang kulit kepala berminyak (apalagi ketombean) dan aktifitas sehari-hari lebih banyak di outdoor, terpapar polusi dan debu ditambah banyak berkeringat, bisa dipertimbangkan untuk berkeramas lebih sering. Tapi, orang yang tipe kulit kepala normal, mungkin bisa saja 5-7 hari sekali baru keramas. Jadi inget, dulu punya temen sekosan, udah seminggu lebih gak keramas tapi kulit kepalanya tetep bersih dan gak lepek, kalau sering keramas malah jadi kering, sehari-hari hanya mengandalkan hair mist aja untuk meminimalisir bau matahari.

Samponya Apa?
Sampo yang kupakai Natur dan The Bodyshop Rainforest (Volume). Pake selang-seling pake atau sesuka-suka hati lagi mau pake yg mana, feel free lah. Tapi sampo Rainforest lebih boros, sebulan setengah udah habis, Tapi sangat sepadan dengan harganya. Sekarang aku lebih suka Rainforest, karena membuat rambut lebih halus dan wanginya enak. Kalau Natur aku suka karena harganya murah. Oh, aku juga lagi suka pake Pigeon Shampoo, nyoba punya my baby boy yang kulitnya super sensitif (eczema-prone). Itu sampo bayi yang sulfate-free & silicone-free yang paling mudah ditemukan (akhirnyaa...^^). Gara-garanya, shampo Chicco yang biasa dede pake hampir habis, saat itu rencananya mau beli ke dept. store (gak ada di supermarket). Kebetulan waktu itu aku ke karfur dulu, untuk cari Baby Wash Pigeon (yang biasa aku pakai buat mandi. Iya, aku yg pake! :P *yang dulu ikutin blog lamaku pasti pernah baca pos tentang sabun mandi, haha.), trus gak sengaja lihat Pigeon Shampoo, eh ternyata free silicon dan sulfate. Asiik. Dulu, sempet tuh dibeliin Mothercare sama temenku, katanya bagus buat anak yg kecenderungan alergi. Eh, pas kulihat ingredientnya, masih mengandung sulfate. Gak deh.


SHORT REVIEW | NATUR PENCUCI RAMBUT ALOE VERA

1. Dari kemasannya aku kurang suka, karena terlalu kecil, jadinya gampang nyampah. Ada sih yang ukuran guedeee, tapi aku gak pernah nemu yang varian Aloe Vera, adanya yang Gingseng. Aku suka aroma yang sekarang, lebih wangi (ada pewangi alami green tea), dulu bau jamunya amit2 deh karena memang tidak ditambah pewangi sintetis. Karena bebas sulfat, jadi busanya gak terlalu banyak. It's OK laa... bisa diulang 2 kali. Buat yang gak biasa pake sampo Natur (dan sampo non silikon lain), pasti berasa kesaaaat banget, ada sensasi 'sapu ijuk' di rambut. Itu biasa, tapi bukan kering lho...

2. Teksturnya kental, dan ada peringatan di setiap kemasannya, kalau produk ini gak boleh kemasukan air karena bisa merusak kualitasnya. Unik juga... :)

3. Sekarang udah halal, tapi aku pake ini sebelum ada label halalnya, sayang dulu variannya belum sebanyak sekarang (cuma ada varian gingseng). Sekarang ada varian urang-aring, aloe vera, olive, moringa, bahkan tea tree oil! ^^

Meski pakai Natur udah bertahun-tahun lamanya, aku rutin pakai shampo bebas-sulfat dan bebas-silikon baru kira-kira setahun lamanya. Dulu, aku pakai Natur selang-seling sama syampo merek X (yang sulfat dan silikonnya banyak). Karena saat itu, aku merasa merek X membuat rabutku lebih halus, bouncy, dan berkilau. Tapi, akhirnya aku sadar, X  membuat rambutku halus tapi sekaligus membuat rambutku mudah sekali lepek dan berminyak dan ujung-ujubfnya malah terlihat 'kempis'.

SHORT REVIEW | THE BODY SHOP RAINFOREST SHAMPOO (VOLUME)

1. Ini sampo favoritku sekarang, gapapa deh harganya lebih mahal, tapi syuka banget. Untuk varian Volume, aku udah habis 2 botol, ini yg ketiga. Sebelumnya pakai Balance, tapi bikin kering kulit kepalaku (padahal kulit kepalaku berminyak lho, mungkin karena kandungan alkoholnya??).

2. Four Free System: Bebas sulfat (dia pakai surfaktan yang berasal dari kelapa/sama kaya Natur), Bebas Silikon (untuk pelembut/anti kusutnya, sampo ini menambahkan aneka minyak tumbuh2an, makanya lebih mahal. Kalau kalian punya shampo mahal ada silikonnya, buang aja... silikon itu sebenarnya murah meriah kok, hehe), Bebas Paraben (aku sebenarnya punya pendapat yang rada2 gak mainstream dengan paraben yang katanya menakutkan. Padahal ada lho pengawet yang harus betul2 dijauhi dibandingkan paraben, hehe), dan Bebas Pewarna.

3. Teksturnya sangattt cair, lagi2 busanya sedikit karena bebas sulfat. Tapi, shampo ini lebih lembut dari Natur, karena memang mengandung aneka minyak. Dan aromanya enak banget.

Aku pernah uji coba langsung di rambutku. Pertama, aku hanya pakai shampo X saja selama 2 mingguan, hasilnya frekuaesi keramasku jauh lebih sering karena kulit kepalaku cepat berminyak dan rambut cepat sekali lepek. Tapi saat menggunakan Natur saja, kulit kepala bisa terasa segar lebih lama, aku bisa keramas 2 hari sekali, tanpa lepek, dan rambut mengembang lebih bagus. Begitupula pengalamanku menggunakan shampo bebas sulfat dan silikon lainnya.

Aku merasa tertipu dengan shampo bersilikon. Rasanya, kilau, rasa halus dan rambut yg bervolume indah seperti fantasi saja, karena tidak lama kemudian, rambut akan menjadi lebih buruk. Itu di rambutku, mungkin rambut tipe lain lebih bisa berteman dengan silikon. Konon, tipe rambut yang kering dan rusak cocok pakai shampo bersilikon, karena silikon berfungsi sebagai pelindung di bagian-bagian rambut yang rusak itu. 

Kenapa Bebas Sulfat dan Silikon?
Sebenarnya, tidak semua produk rambut bersilikon itu jelek kok. Boleh-boleh aja pakai, asal jangan berlebihan. Dan  untuk mereka yang rambutnya cenderung kering dan rusak, produk perawatan rambut bersilikon justru bisa mencegah kerusakan lebih parah dan bisa menyimpan kelembapan lebih lama.

Tapi, kalau ingin KULIT KEPALA lebih sehat sebaiknya mengurangi shampo bersilikon. Karena menurut banyak spekulasi, lapisan silikon di kulit kepala bisa menghambat nurtisi yg harusnya diserap kulit kepala dan akar rambut (bukan rambutnya). Kerugiannya memang lebih kepada kulit kepala, sih. Tapi untuk batang rambutnya sendiri, konon bisa menghalangi zat warna yang masuk saat melakukan hair-coloring.

Berbeda dengan sulfate, lebih baik dihindari deh, terutama sodium lauryl sulfate. Apalagi buat yang kulit kepalanya kering, sensitif dan kecenderungan alergi. Dan menurut beberapa studi, sulfat dikatakan sebagai salah satu biang kerok kerontokan rambut, karena mereka berkontribusi terhadap rusaknya folikel (akar) rambut. Itu katanya, tapi di sini aku cukup berbicara pengalamanku mengenai shampo bersulfat dan bersilikon.

"Pakai Sampo Bebas Silikon dan Sulfat GAK ENAK!"
Oiya, dari beberapa cerita yang kudengar, mereka yang baru memulai  menggunakan syampo bebas silikon, biasanya rambut  akan terasa 'kering', kusut, awut-awuan, ketombe, dan segala first impression yg gak banget deh. Tapi akan terasa 'normal' setelah pemakaian sampai kurang lebih satu bulan. Menurutku, kesan buruk itu wajar kok. Karena selama ini sudah dimanjakan oleh shampo-shampo bersilikon yang memberikan 'kesan' lembut dan bercahaya. Kalau ada yang ngeluh jadi ketombean, konon ketombe itu sebenarnya hasil build up silikon yang sudah menumpuk tebal di kulit kepala. Aku gak tahu masalah ketombe yang katanya hasil build up silicone yang kronis itu bener apa enggak, tapi banyak orang-orang yang mengalami itu pada awal mulanya, katanya itu semacam detox terhadap silikon.Wow, masa?

Kalau yang baru memulai menggunakan shampo bebas sulfat, biasanya akan terasa kurang bersih karena busa yang dihasilkan syampo bebas sulfat memang tidak banyak. Tapi itu cuma perasaan aja. Kayak pake syampo homemade tradisional merang (ada yg pernah bikin?), gak berbusa, tapi rambut tetap bersih dan kesat.

Lalu, bagaimana kesan-kesanku saat pertama kali menggunakan shampo bebas sulfat-silikon? Aku lupa. Soalnya pakai Natur udah lama banget. Udah gak inget gimana masa-masa adaptasinya. Dulu sih pake-pake aja, karena dibeliin si Mama. Aku juga lupa, sebelum Natur aku pakai shampo apaan. Tapi, karena aku pernah pakai selang-seling sama Shampo X tadi, jadi bisa deh sedikit membandingkan untung ruginya pakai jenis 2 shampo yang berbeda. Yah, seperti yang udah aku ceritain tadi.

KONDISIONER
Pakai kondisioner setelah bersyampo kayaknya udah wajib deh buat aku. Mungkin karena udah ritual, jadi kalau gak pake ada yang kurang. Apalagi sampo Natur kurang lembut (meski gak bikin rambut kering), jadi buat pelembutnya harus pake kondisioner lagi.

Yang Dipakai?
Aku pakai kondisioner dari Natur juga, varian urang-aring. Salah satu kondisioner lokal silicone-free favoritku. Suka banget sama produk Natur, dari sampo sampe kondi, cocok semua di kepalaku... :)

SHORT REVIEW NATUR CONDITIONER URANG ARING
SHORT REVIEW | NATUR CONDITIONER URANG ARING
1. Pakai varian urang-aring biar rambut tambah item ^^ Aku suka banget sama cewek yang rambutnya hitam legam, apalagi panjang.
2. Teksturnya thick sekali, tapi gak lengket/bikin lepek dan gak selicin kondisioner lain (mungkin karena bebas silikon). Aromanya biasa saja, ada sedikit bau green tea yang tidak terlalu menyengat.
2. Cinta deh sama produk halal, apalagi kalau udah cocok banget kayak ini. Cupppppssss....
  
Cara Pakai
Untuk kondisioner, aku pakai tanpa mengenai kulit kepala. Didiamkan sesaat, baru bilas sampai bersih.

TONIK
Hmm, ini sebenarnya gak masuk rutinitas perawatan rambutku, karena aku terbilang jarang menggunakan tonik. Karena kulit kepalaku cukup sensitif dengan produk rambut beralkohol. Reaksi di kulit kepalaku biasanya kering dan guattal. Apalagi tonik rambut biasanya berkadar alkohol tinggi.

Tonik yang kupakai?


SHORT REVIEW NATUR TONIK RAMBUT ALOE VERA
SHORT REVIEW | NATUR TONIK RAMBUT ALOE VERA
1. Lidah buaya memang bermanfaat untuk menyuburkan rambut. Pakai ini, aku gak ngerasa rambutku tambah panjang, tapi anak2 rambut/rambut baru ku mulai bermunculan. Aroma jamunya tetap tercium, meski sudah diberi pewangi alami greentea, no problem, aku suka aromanya :)
2. Aku paling suka hair tonik yang bibir botolnya meruncing, jadi bisa langsung kena kulit kepala, gak meleber2 dulu ke batang rambut. Sigh.
3. Halal, alhamdulillah... :)

Gak banyak dan dari sekian banyak tonik yang kucoba, gak banyak juga yang cocok. Paling cocok sejauh ini, Natur hair tonic. Aku gak tahu berapa kadar alkohol yang terkandung, atau malah tidak mengandung alkohol? Karena memang tidak dicantumkan komposisi lengkapnya. Kalau dicium sekilas sih tidak tercium aroma alkohol yang menusuk, mungkin ada dalam jumlah kecil atau malah tidak ada (aku harus tanya langsung kayaknya). Tapi sejauh ini, cuma tonik ini yang gak bikin kulit kepalaku kering dan gatal.

SHORT REVIEW SARIAYU TONIK RAMBUT MAYANG SARI
SHORT REVIEW | SARIAYU TONIK RAMBUT MAYANG SARI
1. Nama tonik rambut ini mengingatkan kita kepada 'seseorang', mahaha... Meski ada alkohol dan ada ekstrak cabenya, tonik ini gak membuat kulit kepala ku teriritasi. Warnanya hijau lumut butek dan aroma jamunya lumayan tajam. Tapi bau2 ini malah sangat ku suka, karena mengingatkan masa kecilku (saat rambutku masih dirawat Mama dengan aneka jamu2an, yang dulu sempat ku benci.... :') )
2. Ew, paling gak suka tonik rambut yang bibir botolnya datar...
3. Halal juga... :)

Aku juga pakai Sariayu Mayangsari Tonik Rambut. Ini ada alkoholnya juga (plus ekstrak cabe!), tapi anehnya cocok gak bikin kering & gatal (cabe gitu!!). Aku jadi penasaran, mau nyoba produk rambut sariayu yang lain seperti Cemceman-nya... :) Kalau shamponya enggak deh, SLS nya itu lho.... :'(

Ngomong-ngomong, dulu aku pernah ngalamin kejadian buruk sama tonik rambut. Tepatnya,  tonik rambut Johnny Andrean. Itu pertama kalinya pakai toner rambut (jaman SMA) dan masih belum tahu kalau kulit kepalaku sensitif alkohol. Awal pake kok ada grenyem-grenyem di kulit kepala, gatel dikit. Besoknya kepalaku rasanya kering dan bawaan mau garuk-garuk aja. Gak lama, timbul bentol kecil di beberapa spot kulit kepala. Breakout. Gara-gara itu sempet kapok tuh pake hair-tonic manapun. Ternyata aku sensitif sama produk tersebut, karena kadar alkohol denatnya sangat tinggi, alkoholnya ada di urutan pertama dalam komposisinya *tepokjidat


SERUM/vitamin/essence/apalah...
Aku RUTIN pakai serum rambut baru akhir-akhir ini aja. Soalnya, dulu-dulu pakai serum rambut gak ada tuh yang hasilnya WUAAAHH. Ya, biasa aja gitu feelnya, pakai gak pake ya gak ada bedanya. Walaupun katanya, pakai serum rambut itu seperti investasi buat rambut kita. Memang gak langsung kelihatan hasilnya, tapi dipercaya akan membuat rambut kita jauh lebih sehat nantinya. Tapi, tujuanku menggunakan serum rambut, sebenarnya lebih kepada proteksi, terutama saat sebelum melakukan hairdrying.

Serum yang Dipakai?

SHORT REVIEW THE BODY SHOP GRAPESEED GLOSSING SERUM
SHORT REVIEW | THE BODY SHOP GRAPESEED GLOSSING SERUM
Serum ini lebih cocok digunakan untuk mereka yang memiliki rambut kering dan rusak, tapi gak masalah kalau rambutnya baik2 saja, gak akan tambah berminyak ataupun lepek kok. Bentuknya pump, dan teksturnya seperti minyak pada umumnya.
Yang kusuka: hasilnya rambut menjadi ringaaan sekali, wanginya enaaaakkk, gak lengket, dan gak bikin rambut  lepek
Yang kurang kusuka: Mengandung satu jenis silikon, so produk ini tidak akan kupakai di kulit kepala.

Tadinya aku pakai aneka merek. Pakai Ellips, Loreal, Makarizo, sama Sunsilk. Gak ada satupun dari mereka yang sampai habis ku pakai. Trus, pas lagi jalan-jalan di Makeup Alley, aku gak sengaja nemu review The Body Shop Grape Seed Hair Glossing Serum. Ternyata pas aku klik, wah ratingnya tinggi juga. Reviewnya pun bagus-bagus. Akhirnya aku penasaran buat nyoba, soalnya emang belum pernah nemu serum yang cocok. Hasilnya: cukup puas. Sayang, masih mengandung 1 jenis silikon: Dimethiconol. Tapi better lah ya, mengingat serum rambut kebanyakan telah dipenuhi dengan kandungan silikon yang lumayan banyak. 

Cara Pakaiku?
Aku biasanya pakai serum ini sebelum melakukan hair-drying, saat rambut setengah basah. Karena, sekarang aku cukup sering juga mengeringkan rambut dengan pengering, jadi butuh proteksi ekstra. Cukup 3-4 pump, kemudian oles di batang rambut. Aku gak berani oles-oles di area kulit kepala, mengingat produk ini masih mengandung silikon. Setelah rambut dikeringkan, hasilnya langsung kerasa!! Berasa kayak gak punya rambut saking entengnya, slewerr... :D Ada deh bedanya, pake sama gak pake. Dan yang penting, serum ini gak berat dan lengket dsb.

Trus, apakah serum ini membuat rambut lebih glossy (sesuai dengan namanya)? Aku gak bisa lihat bedanya. Secara, tekstur rambutku ya gitu-gitu aja, gak kering, gak kusam, gak rusak, cukup sehat, tapi ya gak berkilat-kilat juga kayak di iklan shampo XD. Namun, serum ini memang lebih ditujukan untuk pemiliki dull & frizzy hair. Mungkin jenis rambut seperti itu bisa lebih terlihat efek glossynya.

MASKER RAMBUT
Masuk ke perawatan rambut terfavorit, yeyey!! Aku emang gak terlalu suka maskeran di muka, gak rutin aja, sesukanya lah. Tapi kalau masker rambut, pasti 2-4 minggu sekali rutin aku lakuin. Meskipun untuk beberapa orang hal ini sedikit merepotkan.

Masker rambut itu  semacam deep conditioning, fungsinya menutrisi lebih intens. Sekaligus merelaksasi kulit kepala yang lelah (menurutku sih, haha). Aku bisa ngerasain bedanya, rambut yang rutin hair mask sama yang perawatannya minus hair mask. Kalau rambut di masker, lembutnya beda. Alussssss banget. Rasa-rasanya mau megangin rambut terus.

Hair mask yang kupakai?
Hmmm, pokoknya bukan hair mask yang bermerek. Sejauh ini lebih puas bikin sendiri!! Dulu sempet nyobain Pantene, Makarizo, Sunsilk, Dove, Good dll, banyak deh pokoknya. Meski yg bermerek lebih praktis, pengalamannya gak sepuas bikin sendiri. Kadang, hair mask yang kubeli ada yang membuat rambut tambah kusam, berminyak, lepek, gak seger, walaupun awalnya terasa lembut. Ini emang karena gak jodoh aja atau karena (lagi-lagi) efek buruk silikon di kulit kepalaku yang berminyak ini?

Yup, kalau diperhatikan rata-rata hairmask mengandung deretan silikon. Ini mengherankan, tujuan hair mask itu kan memberi nutrisi lebih ke kulit kepala, kalau mengandung silikon bagaimana cara nutrisi itu masuk? Mungkin masuk, tapi pastinya tidak optimal. Tapi, hair mask bersilikon mungkin memberi benefit tersendiri bagi pemilik dry & frizzy hair.

Kembali ke homemade hairmask. Ada beberapa resep yang ku pakai untuk masker rambut rumahan. Adapun campuran yang paling sering kupakai adalah:
  1. Pisang + susu + Madu
  2. Alpukat + Madu
  3. ANDALAN: Yoghurt + Madu (Efek mantab, bikinnya gampang). Aku nyebutnya masker YOHO (yoghurt-honey), hehe... Tapi gak semua orang cocok sama yoghurt lho... Ada beberapa yang malah timbul jerawat di kulitnya.
CARANYA?


DIY YOHO HAIRMASK untuk satu kali pemakaian
DIY  | YOHO HAIRMASK (untuk satu kali pemakaian)
1. Bahannya: Madu Murni dan Plain Yoghurt
2. Campur 1 sdm Madu dan 3 sdm yoghurt (atau satu bungkus ukuran 100cc)
3. Mix!! Dan siap digunakan,
NEXT...
  • Keramas seperti biasa
  • Keringkan rambut dari sisa air dengan handuk
  • Oleskan homemade hair mask dari pangkal sampai ujung rambut. Sambil pijat-pijat
  • Biar hasilnya maksimal, tutup kepala pakai handuk hangat (jadi handuknya udah dicelup air hangat terus peras, atau handuk bersih yang disetrika panas). 
  • Biarkan 5 menit. 
  • Bilas. Boleh pakai shampo lembut atau shower hangat saja.

Nah, selesai deh perawatan rambut rutinku. Akhir kata, Sebenarnya, aku kepengen deh nyoba minyak-minyakan untuk rambut. Ada yang pernah coba-coba perawatan rambut rutin dengan minyak belum? Sejauh ini yang pernah sukses itu perawatan dengan minyak kemiri, Mamaku yang bikin sendiri (Mamaku emang demen ngerawat rambut anak-anaknya). Dan emang bagusss hasilnya, rambut jadi iteeeemm banget padahal dulu pas SD aku demen banget panas-panasan di bawah matahari.

Love, Momzhak

Sunday, 7 July 2013

Make Up | Animal Free Liptint (The Body Shop Lip and Cheek Stain Review)

Assalamualaikum, Qonitas!! ^^

Udah lama juga yah aku gak review lip product? Soalnya, akhir-akhir ini emang rada males bikin swatch di bibir, berhubung area daguku masih penuh sama totol-totol bekas jerawat (dan jerawatnya juga, haha) T__T. Sekarang alhamdulillah udah mendingan, jerawat di dagu udah pada kering dan tutul-tutulnya udah berangsur pudar, jadi aku udah mulai mood lagi buat bikin review ^^. Nah, review kali ini mengulas liptint yang sedang aku pakai baru-baru ini, lho...:D

Btw, siapa yang lebih suka pake liptint daripada lipstick?? Kalau aku sih demen sama dua-duanya, hehe. Liptint hayo, lipstick hayo aja. Tapi biasanya liptint aku pakai di rumah, buat suasana santai aja. Tapi, emang ada beberapa alasan kenapa ada orang yang lebih syuka sama liptint, misalnya:
  • Sifat warnanya yg menyerap ke kulit bibir (stained)
  • Warnanya sheer (tinted), sehingga gak menutupi tekstur kulit bibir seperti lipstick, jadi kesannya warna asli bibir kita merah natural..
  • Lebih nyaman digunakan, gak berasa tebal di bibir
  • Biasanya gak meninggalkan jejak saat kita minum di gelas :P 

Nah, liptint yang akan ku review kali ini adalah The Body Shop Lip & Cheek Stain. Kenapa aku pilih brand The Body Shop? Karena semua produk TBS bebas unsur hewani, jadi bisa menjadi alternatif kosmetik yang sudah bersertifikat halal. Mengingat, merek-merek yg sudah berlabel halal belum ada yg mengeluarkan lip tint/stain.

Intermezzo!! Ada kejadian lucu waktu aku pake liptint ini. Ceritanya, ada ibu-ibu tetangga datang ke rumah ku, mau ngasih undangan khitan anak bungsu-nya. Usianya udah lumayan tua, tapi masalah makeup nomer satu dah, hehe. Nah, pas ketemu aku di rumah, kebetulan emang aku lagi pake liptint. Pas desye udah mau pulang, langsung deh dia bilang gini,"Eh, dek... mau tanya, kamu SULAM BIBIR dimana?" Hahahaha.... langsung deh bengong aku, dan malah nanya balik,"Apaan tuh sulam bibir? Bibirnya dijait bu?" Ngakak berdua.

Habis itu langsung googling, apaan sih sulam bibir? Oh, jadi sejenis tato bibir gitu, biar merah permanen/semi permanen. Emang sih, penampakannya jadi merah alami meski tanpa lipstick. Hadeh, ada-ada aja, ya teknologi kecantikan sekarang... =_=

Oke, langsung ke reviewnya aja, ya.

THE BODY SHOP LIP AND CHEEK STAIN REVIEW


Aplikator
Gak ada yang istimewa ya dari bentuk kemasannya, penampakannya seperti kemasan liquid lip product lainnya. Aplikatornya pun tak ada yg istmewa.
ada sejenis rubber berwarna putih, agar lebih tertutup rapat
Yang jadi nilai plus, botol ini disertai sejenis karet/rubber pada bibir botolnya, jadi saat ditutup, akan menjadi kedap udara dan tidak mudah tumpah.  
WARNA DAN PIGMENTASI

Shade ROSE PINK
Sepertinya hanya ada satu shade yang dijual di konter TBS Indonesia, yaitu ROSE PINK (01) Padahal, di luar indo ada shade yg cakeppppp banget, yaitu BRONZE GLIMMER (02).
Pigmentasinya bagus, sampai pas make ini disangka sulam bibir, hihi. Untuk pemakaian bisa disesuaikan, dari natural-look sampai kayak jontor dan tergampar-gempor juga bisa ><
SWATCH
1. Teksturnya cair (watery); 2. Setelah dibaurkan

TEKSTUR
Teksurnya watery. Mirip dengan Tony Moly Lip Tint, liptint pertamaku (shade Pink Cherry). Bagusnya. lipstain TBS ini lebih buildable, meski buat yang gak biasa pake liptint yg watery gini, makenya rada-rada messy pada awalnya.
STAYING POWER
Biasa saja. Setelah makan besar, liptint ini luntur bubar jalan grak dengan sendirinya. Tapi, kalau cuma minum-minum, makan-makan ringan tetep stay good lah. Bagusnya, liptint ini gak transferable ke gelas yg kita minum (Mungkin semua liptitnt gitu deh...^^)
HOW TO USE
Liptint ini bisa dipake buat cheek stain juga, buat efek blushing di pipi. Ya, sesuai dengan namanya, Lip & Cheek stain :D
1. Apply on lips (btw, di dagu bawahku sebenarnya ada jerawat :P)
2. On my cheek
(Semuanya foto outdoor, kalau indoor kamera hp ku kurang nangkep warnanya)
Sebenarnya, kalau buat pipi emang gak pernah kupake selain untuk review ini aja, jadi kurang bisa menjelaskan gimana ketahanan dan blabla lainnya. Untuk aplikasi di pipi bisa dipakai setelah compelxion makeup kita selesai tanpa merusak make-upnya, lho. Kalau dipakai sebelum finishing dengan face powder bisa-bisa aja, tapi kurang kelihatan warananya. Dan warnanya bakalan ngejreng banget kalau apply langsung pada bare face kita, karena langsung menyerap ke kulit. Jadi hati-hati, bisa mirip orang yang habis ketampar hehe.
Yang jelas, sebelum pakai pewarna bibir jenis apapun, agar hasilnya bagus dan halus pastikan bibir kalian sehat (tipsnya di sini ^^). Untuk cara pakai, aku pakai cara yg ada di video ini:

INGREDIENTS
Aqua, Glycerin, Phenoxyethanol, Panthenol, Acrylates/C10-30 Alkyl Acrylate Crosspolymer, Methylparaben, Aminomethyl Propanol, CI 17200. 
Mengandung Glycerin untuk melembabkan bibir dan Panthenol untuk efek soothing & coolingnya. Memang, liptint ini tidak membuat bibirku kering dan ada terasa 'dingin' saat dioles.
APAKAH PRODUK INI HALAL?
Setiap review produk, aku akan membahas tentang kehalalan produk yang kupakai. Ini penting (seenggaknya buat blog ini, hehe), terutama buat mereka yang perhatian dengan kosmetik halal.
Untuk kehalalan produk The Body Shop, tentunya mereka tidak memiliki sertifikasi halal dari lembaga manapun. Tapi, produk ini bisa menjadi alternatif kosmetik yang sudah ber-SH, karena klaim TBS, semua produknya bebas unsur hewani dan cocok untuk vegetarian bahkan Vegan sekalipun. 
Untuk memastikannya, silahkan klik LINK INI. Di sana tertulis: Every one of our products is animal cruelty free and vegetarian.
KESIMPULAN
Produk ini cukup bagus, kualitasnya mirip-mirip dengan Tony Moly Cherry Pink yg pernah ku pakai dulu (tapi lebih unggul TBS, imo). Untuk pigmentasi, Tony Moly lebih pigmented tapi TBS lebih buildable ketimbang Tony Moly yang cepet nyerep kalau gak buru-buru diblend. Ada efek 'dingin' waktu dipolas ke bibir. Dan SAMA SEKALI GAK BIKIN KERING di bibirku (gak kayak Tony Moly).  Aku biasanya pake ini hanya untuk di rumah aja, atau lagi males pake lipstik. Tapi tetep lah, kalau untuk daily aku lebih milih lipstik ketimbang liptint (meski aku suka keduanya, hehe). Kekurangannya, menurutku ini overprice dengan kualitas yang sedang saja dan ada sedikit rasa pahit.  
Score:
Love, Momzhak

Monday, 1 April 2013

Make Up | Mengenal Macam Bulu Kuas Make Up (Bulu Sintetik VS Bulu Hewan)

Assalamualaikum! ^^

Untuk kalian yang concern dengan kosmetik halal, ada hal lain yang harus diperhatikan kehalalannya selain  make-up dan skincare yang dioleskan di kulit, yaitu kuas make-up atau make-up BRUSHES!

Mengapa?

Karena sangat amat banyak brush yang dijual di luar sana masih menggunakan bulu binatang! Bulu binatang yang digunakan bisa berasal dari tupai, marmut, kambing, kuda, babi dll. Dan bulu binatang masih sangat disukai sebagai brush bristle karena harga yang relatif murah dan memberikan hasil make-up yang sempurna. Meskipun, bulu sintetik sekarang banyak yang berkualitas sangat baik.
 
Sebagai pengetahuan, ada 2 jenis bristle yang digunakan pada brush. Oiya, bristle adalah istilah 'bulu' untuk kuas

1. Syntethic Bristle. 
Atau disebut juga bulu sintetik, dan pastinya bukan terbuat dari bulu binatang. Karakteristiknya adalah:
  • Biasanya terbuat dari nylon (pada umumnya) dan taklon (contohnya: Ecotools)
  • Penampakan mengkilat
  • Warnanya bisa beraneka
  • Perawatannya mudah karena tidak menyerap pigmen dan air.
  • Penggunaannya lebih cocok untuk aplikasi make-up cair seperti foundation karena tidak menyerap banyak cairan
  • Relatif lebih lembut  Tapi semakin lembut semakin mahal.

2. Natural Bristle
Terbuat dari bulu binatang. Bisa terbuat dari tupai, marmut, kuda, kambing dan babi. Untuk bulu babi, biasanya untuk sikat alis atau mascara brush. Ciri dari natural bristle, yaitu:
  • Penampakannya tidak mengkilap, lebih redup.
  • Warnanya biasanya natural cokelat, abu, putih atau hitam
  • Mudah menyerap pigmen, sehingga perwatannya sulit.
  • Penggunaannya cocok untuk aplikasi make-up yang berbentuk powder seperti bedak, blusher, eyeshadow, 
  • Tersedia dari yang paling kasar sampai sangat lembut sekali.
  • Lebih disukai oleh para profesional karena bisa memberikan hasil eye-make up yang baik.
  • Lebih murah


Ada beberapa pilihan brush dengan kulitas terbaik tapi animal fur free. Silahkan dipilih.... ^^

THE BODY SHOP BRUSHES

Koleksinya memang gak banyak. Tetapi, semuanya animal fur free. Dan meskipun TBS sudah menjadi anak perusahaan dari L'oreal (yang menguji produknya pada hewan dan mengandung bahan mentah dari binatang juga), TBS masih menjadi ikon kosmetik yang animal cruelty free, jadi bebas uji produk pada hewan, ingredientnya pun animal free, cocok buat yang menginginkan produk make up yang halal ataupun mereka yang vegetarian/vegan.
Terbuat dari bahan sintetik terbaik dan terasa sangat lembut. Aku pakai beberapa brush dari TBS, memang sangat lembut dan bagus aplikasinya.

ECOTOOLS BRUSHES

source

Merek ini cukup terkenal juga di sini, meskipun hanya bisa dibeli secara online. Dari namanya saja, eco-, udah cukup menunjukkan kalau brush ini memang pro kepada sesuatu yang natural, ramah lingkungan dan animal-free.
Brushnya terbuat dari bahan yang disebut taklon (sejenis polyester) yang kualitasnya bisa lebih baik dari nylon biasa.


EYE LIPS FACE (ELF) BRUSHES

source

ELF merupakan kosmetik yang terdaftar sebagai Animal Cruelty Free Cosmetics versi PETA. ELF ini harganya sangat terjangkau dan kulitas brushnya pun lumayan bagus. Koleksi brushnya sangat lengkap, dari  A sampai Z semua tersedia! Dan cocok buat yang baru belajar make-up.


STILA BRUSH



SLEEK BRUSH





NYX BRUSHES
source

********

Itu saja yang aku ingat beberapa brush yang menggunakan synthetic bristle untuk bulunya. Lain kali akan ku-update jika ada kuas make-up sintetik berkualitas baik lainnya (Dan memang sebenarnya banyak, kok!)

Sebenarnya, ada keuntungan lain menggunakan brush berbahan sintetik, yaitu hypoallergenic. Karena untuk mereka yang kulitnya sensitif, menggunakan brush dari bulu binatang bisa mencetuskan alergi. 

Aku sendiri punya beberapa brush yang terbuat dari campuran bulu binatang, contohnya merek Masami Shouko. Aku suka produk dari Masami Shouko, sampai traincase make-up ku pun merek Masami Shouko karena design nya lucu dan unik. Untuk brushnya dulu sering aku beli karena harganya murah. Tapi setelah aku cek di websitenya Masami, brushnya ada yang terbuat dari natural bristle, synthetic bristle dan campuran keduanya. Yang aku punya kebanyakan dari natural bristle, kecuali foundation brush #302. Akhirnya brush Masami milikku yang masih terbuat dari bulu hewan tidak ku pakai lagi. Lain kali kalau mau beli brush Masami, akan ku cek dulu dari sintetik atau bukan.

Tips dariku dalam membeli brush bebas hewan:
  1. Pahami ciri-ciri brush sintetik dan non sintetik
  2. Belilah brush yang ada keterangan produk di kemasannya
  3. Beli Brush yang memiliki website tentang penjelasan produknya
  4. Sebaiknya jangan beli brush2  yang kemasannya menggunakan bahasa yang tidak kita mengerti atau brush yang kemasannya cuma plastik aja, gak ada keterangannya.

Wassalam

Love, Momzhak

Baca juga :

About

Website ini mengenai review tentang produk Kosmetik. "menjadi cantik tak perlu mahal, tapi harus pintar dalam mencantikan diri"